Odisseia
| Odisseia | |
|---|---|
| karya Homeros | |
Fragmen manuskrip Odisseia tertua yang diketahui, dibuat di Mesir Ptolemaik pada abad ke-3 SM dan ditemukan di Medinet Ghoram | |
| Judul asli | Ὀδύσσεια |
| Penerjemah | Lihat terjemahan dari Odisseia atau terjemahan bahasa Inggris |
| Ditulis | ca abad ke-8 SM |
| Bahasa | Yunani Homeros |
| Genre | Epos |
| Bentuk | Puisi epos |
| Susunan rima | Tidak ada |
| Larik | 12109 |
| Didahului | Ilias |
| Teks utuh | |
| Perang Troya |
|---|
| Perang |
|
Medan: Kurun waktu: Pertanggalan tradisional: Pertanggalan modern: Hasil: Kesejarahan Ilias |
| Sumber sastrawi |
Perang Troya dalam budaya populer |
| Babak |
| Pihak Yunani dan sekutunya |
Katalog Kapal |
| Pihak Troya dan sekutunya |
Gugus tempur Troya |
| Dewa-dewi yang terlibat |
|
Memicu perang: Memihak Yunani: Memihak Troya: |
| Topik terkait |
Odisseia (/ˈɒdɪsi/;[1] Yunani Kuno: Ὀδύσσεια, romanized: Odýsseia)[2] adalah salah satu dari dua epos utama sastra Yunani kuno yang dikaitkan dengan Homeros. Karya ini adalah salah satu karya sastra tertua yang masih bertahan hingga kini dan tetap populer di kalangan pembaca modern. Sama halnya dengan Ilias, Odisseia terbagi menjadi 24 buku. Epos ini mengisahkan raja Itaka yang heroik, Odiseus, yang juga dikenal dengan bentuk nama Latin Ulysses, serta perjalanan pulangnya setelah Perang Troya yang berlangsung selama sepuluh tahun. Perjalanannya dari Troya menuju Itaka menghabiskan waktu selama sepuluh tahun berikutnya. Dalam perjalanan itu, ia menghadapi berbagai marabahaya dan kehilangan semua awak kapalnya. Karena tidak kunjung pulang, Odiseus dianggap telah meninggal dunia. Akibatnya, istrinya, Penelope, dan putranya, Telemakhos, harus menghadapi sekelompok pelamar yang berlaku semena-mena dan saling bersaing untuk mempersunting Penelope.
Odisseia pertama kali disusun dalam bahasa Yunani Homeros sekitar abad ke-8 atau ke-7 SM. Pada pertengahan abad ke-6 SM, karya ini telah menjadi bagian dari kanon sastra Yunani. Pada zaman klasik, tidak diragukan bahwa Homeros merupakan pengarang Odisseia. Namun, para cendekiawan modern pada umumnya berpendapat bahwa Ilias dan Odisseia digubah secara terpisah sebagai bagian dari tradisi lisan yang panjang. Mengingat tingkat buta huruf pada masa itu masih tinggi, puisi tersebut dibawakan di hadapan khalayak oleh seorang aoidos atau rapsoidos.
Tema-tema utama dalam epos ini meliputi gagasan tentang nostos (νόστος; 'kembali', 'kepulangan'), pengembaraan, xenia (ξενία; 'keramahtamahan terhadap tamu'), pengujian, dan pertanda. Para cendekiawan membahas peran menonjol kelompok-kelompok tertentu dalam puisi ini, seperti perempuan dan budak, yang memiliki peran lebih besar dalam Odisseia dibandingkan dalam karya sastra kuno lainnya. Penekanan tersebut sangat mencolok jika dibandingkan dengan Ilias, yang berpusat pada kisah para prajurit dan raja selama Perang Troya.
Odisseia dianggap sebagai salah satu karya terpenting dalam kanon Barat. Terjemahan pertama Odisseia dalam bahasa Inggris diterbitkan pada tahun 1616. Berbagai adaptasi dan penafsiran ulang terus diproduksi dalam beragam media. Pada tahun 2018, Odisseia menduduki peringkat pertama dalam jajak pendapat BBC Culture terhadap para ahli di seluruh dunia yang bertujuan menentukan narasi sastra yang paling abadi.
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Waktu penulisan
[sunting | sunting sumber]Terdapat banyak pendapat mengenai waktu penyusunan Ilias dan Odisseia, tetapi hingga kini belum ada kesepakatan mengenai hal tersebut.[3] Robert Lamberton, seorang filolog klasik, mengatakan bahwa kedua epos tersebut "berasal dari masa peralihan menuju meluasnya tradisi melek huruf", yakni sekitar pertengahan abad ke-5 SM,[4] meskipun bahasa yang digunakan dalam kedua puisi tersebut dapat ditelusuri hingga masa yang jauh lebih awal.[5] Bangsa Yunani mulai mengadopsi abjad Fenisia yang telah dimodifikasi untuk mengembangkan sistem tulis-menulis mereka sendiri sekitar abad ke-8 SM.[3] Jika puisi-puisi karya Homeros termasuk di antara karya-karya paling awal dari tradisi tulis-menulis tersebut, maka kemungkinan besar keduanya digubah pada paruh akhir abad itu.[6][a]
Menurut Rudolf Pfeiffer, seorang filolog klasik, kedua puisi tersebut kemungkinan digubah dalam bentuk tertulis. Namun, tidak terdapat bukti bahwa naskah-naskahnya pernah diterbitkan ataupun disebarluaskan secara fisik untuk dibaca oleh khalayak yang telah melek huruf.[9][b] Upaya menentukan waktu penyusunan kedua epos tersebut juga dipersulit oleh kenyataan bahwa puisi-puisi Homeros, atau bagian-bagiannya, dipentaskan oleh para rapsoidos selama ratusan tahun.[3]
Penyusunan dan kepengarangan
[sunting | sunting sumber]Para cendekiawan sepakat bahwa epos-epos Homeros berkembang sebagai bagian dari tradisi lisan selama ratusan tahun.[11] Pada awal abad ke-20, filolog klasik Milman Parry dan Albert Lord menunjukkan bahwa kedua epos tersebut secara jelas memperlihatkan karakteristik puisi lisan,[12][c] yang memungkinkan bahkan seorang penyair yang buta huruf mengimprovisasi puisi-puisi panjang[14] dengan menggubahnya secara lisan.[12] Para cendekiawan belum mencapai kesepakatan mengenai bagaimana kedua epos itu muncul dari tradisi tersebut[5] dan masih belum jelas apakah penyusunan kedua epos itu sepenuhnya dapat dikaitkan dengan tradisi lisan.[15] Pada abad ke-19, serangkaian persoalan mengenai kepengarangan kedua epos tersebut dikenal sebagai Persoalan Homerik.[16] Sumber-sumber dari zaman kuno menghadirkan berbagai kisah mitologis untuk menjelaskan sosok Homeros.[17] Hingga kini, perdebatan mengenai berbagai aspek Persoalan Homerik masih terus berlanjut,[5] misalnya, mengenai hubungan penyusunan antara Ilias, Odisseia, dan puisi-puisi Siklus Wiracarita yang sebagian besar telah hilang; apakah Homeros benar-benar pernah hidup, dan jika demikian, kapan ia hidup;[16] serta apakah kedua epos tersebut mencerminkan kenyataan geografis, sejarah, atau budaya tertentu.[5] Meskipun Herodotos menganggap Ilias dan Odisseia sebagai karya Homeros,[18] sejumlah karya lain juga pernah diatribusikan kepadanya, termasuk Himne Homeros.[19]
Rekonstruksi tekstual menunjukkan bahwa kedua epos tersebut telah hadir dalam berbagai bentuk.[20] Karena umpan balik merupakan unsur penting dalam pertunjukan langsung, isi puisi dapat berubah dari satu pementasan ke pementasan lainnya.[19] Konteks ini penting untuk memahami dan menafsirkan kedua epos tersebut;[21] John Miles Foley, seorang filolog, berpendapat bahwa pementasan merupakan bagian yang esensial dari pemaknaan kedua epos itu.[22] Pementasan puisi epos bahkan menjadi salah satu tema dalam kedua epos tersebut; Odisseia, misalnya, secara langsung menampilkan penyanyi profesional seperti Femius dan Demodokos.[23] Jika penggambaran pementasan di dalam kisah itu digunakan sebagai dasar untuk memahami cara kedua epos dipentaskan, maka keduanya kemungkinan dibawakan di kediaman keluarga-keluarga terpandang sebagai bagian dari jamuan makan pada milenium ke-2 hingga awal milenium ke-1 SM,[24][25] dan para hadirin mungkin turut mengarahkan jalannya pementasan atau berpartisipasi di dalamnya.[24] Kedua epos tersebut kemungkinan besar didaraskan, yakni dibawakan tanpa iringan musik.[26]
Seperti halnya Ilias, Odisseia terbagi ke dalam 24 bagian.[d] Para cendekiawan awal berpendapat bahwa pembagian tersebut berkaitan dengan 24 huruf dalam abjad Yunani, tetapi pandangan tersebut kini secara luas dianggap tidak memiliki dasar historis.[28][e] Pembagian tersebut kemungkinan dilakukan jauh setelah puisi tersebut disusun, tetapi kini pada umumnya diterima sebagai bagian dari struktur modernnya.[30] Terdapat berbagai teori mengenai asal-usul pembagian tersebut. Sebagian berpendapat bahwa pembagian itu memang merupakan bagian asli tradisi lisan, sedangkan yang lain menganggapnya sebagai hasil karya para cendekiawan Aleksandria.[31] Pseudo-Plutarkhos mengaitkan pembagian itu dengan Aristarkos dari Samotrakia, tetapi terdapat sejumlah bukti yang bertentangan dengan pendapat tersebut.[32][33][34] Beberapa cendekiawan menghubungkan pembagian kedua epos itu dengan tradisi pementasan, misalnya sebagai hasil penyusunan oleh para rapsoidos.[35][36]
Kedua epos tersebut mengandaikan bahwa para pendengarnya telah memiliki pengetahuan tertentu, misalnya mengenai Perang Troya. Hal ini merupakan petunjuk kuat bahwa kedua epos tersebut berinteraksi dengan tradisi mitologis yang telah ada sebelumnya.[37] Meskipun Perang Troya merupakan unsur penting dalam keduanya, Odisseia tidak secara langsung merujuk pada peristiwa-peristiwa perang yang digambarkan dalam Ilias,[38][f] dan secara umum kedua epos itu dianggap berkembang secara terpisah satu sama lain.[40] Terdapat argumen yang mendukung bahwa salah satu epos disusun terlebih dahulu daripada yang lain, tetapi hingga kini belum dapat dipastikan epos mana yang disusun lebih awal.[40]
Pengaruh
[sunting | sunting sumber]
Para cendekiawan mencatat adanya pengaruh kuat dari mitologi dan sastra Timur Dekat dalam Odisseia.[41] Filolog Martin West menunjukkan banyaknya kemiripan antara Wiracarita Gilgamesh dengan Odisseia. Gilgamesh maupun Odiseus sama-sama dikenal karena melakukan perjalanan hingga ke ujung dunia dan, dalam pengembaraan mereka, mengunjungi alam kematian.[42] Dalam perjalanannya menuju dunia bawah, Odiseus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Kirke, yang tinggal di tepian dunia dan dikaitkan dengan citra matahari.[43] Demikian pula, Gilgamesh memperoleh petunjuk untuk mencapai alam kematian dari seorang penolong ilahi, yakni Dewi Siduri. Seperti Kirke, Siduri tinggal di tepi laut di ujung dunia dan kediamannya juga dikaitkan dengan matahari. Gilgamesh mencapai rumah Siduri dengan melewati sebuah terowongan di bawah Gunung Mashu, gunung tinggi tempat matahari naik ke langit.[44] West berpendapat bahwa kemiripan antara perjalanan Odiseus dan Gilgamesh ke ujung dunia merupakan hasil pengaruh Wiracarita Gilgamesh terhadap Odisseia.[45] Ahli folklor klasik Graham Anderson juga menunjukkan sejumlah pola yang serupa: para tokoh utama dalam Odisseia dan Wiracarita Gilgamesh sama-sama bertemu dengan perempuan yang mampu mengubah manusia menjadi hewan, terlibat dalam kematian ternak suci, serta menikmati—meskipun dengan enggan—kehadiran seorang "wanita yang memancarkan pesona sensual di suatu firdaus alam lain" setelah menempuh perjalanan melalui alam kematian.[46]
Para cendekiawan juga mengkaji apakah tokoh-tokoh dalam Odisseia berasal dari puisi itu sendiri atau merupakan bagian dari tradisi yang telah ada sebelumnya. Sejarawan ilmu pengetahuan kuno dan folkloris klasik Adrienne Mayor berpendapat bahwa paleontolog Austria, Othenio Abel, mengemukakan klaim yang tidak berdasar ketika menyatakan bahwa filsuf Empedokles dari abad ke-5 SM menghubungkan para kiklops dengan tengkorak gajah prasejarah.[47] Apakah puisi epos tersebut menciptakan, memopulerkan, atau sekadar mengisahkan kembali cerita tentang Polifemos telah menjadi perdebatan sejak lama,[48] tetapi Anderson menyatakan bahwa terdapat konsensus tertentu di kalangan cendekiawan bahwa kisah Polifemos telah ada secara terpisah dari Odisseia.[46] Cendekiawan klasik William Bedell Stanford juga mencatat bahwa terdapat sejumlah petunjuk yang mengisyaratkan bahwa kisah mengenai tokoh Odiseus telah ada secara terpisah dari Homeros, meskipun bukti yang ada belum bersifat konklusif.[49]
Geografi
[sunting | sunting sumber]Para cendekiawan masih belum menyepakati apakah tempat-tempat yang dikunjungi Odiseus merupakan tempat yang benar-benar ada.[50] Peristiwa-peristiwa dalam alur utama Odisseia (tidak termasuk kisah selipan pengembaraan Odiseus yang ia ceritakan sendiri) diperkirakan berlangsung di kawasan Peloponnesos dan Kepulauan Ionia.[51] Banyak cendekiawan yang mencoba memetakan rute perjalanan Odiseus, tetapi pada umumnya mereka sepakat bahwa bentang alam yang digambarkan—terutama dalam Buku IX hingga XI—mengandung terlalu banyak unsur mitologis sehingga tidak dapat dipetakan secara meyakinkan.[52] Sebagai contoh, terdapat kesulitan dalam memastikan apakah Itaka, tanah kelahiran Odiseus, merupakan pulau yang sama dengan pulau Ithakē (modern Greek: Ιθάκη) pada masa kini.[51] Hal yang sama juga berlaku bagi rute yang diceritakan Odiseus kepada bangsa Faiakia maupun pulau mereka, Skeria.[50] Filolog klasik Britania, Peter Jones, berpendapat bahwa Odisseia kemungkinan telah mengalami banyak perubahan oleh para penutur tradisi lisan selama beberapa abad sebelum akhirnya dituangkan dalam bentuk tulisan, sehingga "hampir mustahil" untuk menentukan "dalam hal apa [puisi tersebut] mencerminkan suatu masyarakat historis atau pengetahuan geografis yang akurat."[53] Para cendekiawan modern cenderung menafsirkan perjalanan Odiseus secara metaforis, alih-alih secara harfiah.[54]
Sinopsis
[sunting | sunting sumber]
Sepuluh tahun setelah bangsa Akhaia (Yunani) memenangkan Perang Troya, Odiseus, raja Itaka, belum juga pulang dari Troya. Selama ketidakhadirannya, 108 pelamar yang kurang ajar dan tak tahu malu berusaha mempersunting istrinya, Penelope. Penelope mengumumkan bahwa ia akan menikah lagi setelah ia selesai menenun kain kafan untuk Laertes, ayah Odiseus yang telah lanjut usia. Namun, setiap malam ia diam-diam mengurai kembali tenunan tersebut.
Dewi Athena, mula-mula dengan menyamar sebagai Mentes lalu sebagai Mentor, mendorong putra Odiseus, Telemakhos, untuk mencari kabar tentang ayahnya. Keduanya meninggalkan Itaka dan mengunjungi Nestor, yang memberi tahu bahwa Agamemnon, panglima pasukan Yunani dalam Perang Troya, dibunuh tidak lama setelah perang berakhir. Telemakhos lalu pergi ke Sparta untuk menemui Menelaos, saudara Agamemnon, yang menceritakan pengalamannya bertemu dewa yang dapat berubah wujud, dikenal sebagai Sang Tua Penguasa Laut. Menelaos mengatakan bahwa ia mengetahui dari dewa tersebut bahwa Odiseus masih hidup, tetapi ditawan oleh nimfa Kalipso.
Athena memohon kepada Zeus agar menyelamatkan Odiseus, dan Zeus mengutus Hermes untuk berunding dengan Kalipso agar membebaskan Odiseus. Ketika Odiseus meninggalkan pulau Kalipso, Poseidon menghancurkan rakitnya dengan badai. Nimfa laut Ino melindunginya hingga ia berhasil berenang ke Skhreia, negeri bangsa Faiakia. Di sana, Athena menuntun putri Faiakia, Nausikaa, untuk menemukan dan menolong Odiseus. Di istana orang tua Nausikaa, Arete dan Alkinoos, Odiseus menunjukkan keunggulannya dalam berbagai pertandingan atletik. Ia kemudian larut dalam haru ketika penyanyi Demodokos melantunkan kisah mengenai Perang Troya. Setelah itu, Odiseus membuka jati dirinya dan menceritakan pengembaraannya sejak berakhirnya perang.

Setelah meninggalkan Troya, Odiseus dan anak buahnya menyerbu bangsa Kikones, sekutu Troya. Setelah berhasil merebut Kota Ismaros melalui serangan mendadak, Odiseus dan para anak buahnya menjarah kota tersebut serta membantai para prajuritnya. Rampasan mereka berupa harta benda, ternak, dan para perempuan. Hanya Maron, imam Apollo, beserta keluarganya yang dibiarkan hidup oleh Odiseus. Sebagai ungkapan terima kasih, Maron menghadiahkan tujuh talenta emas, sebuah mangkuk perak, serta dua belas tempayan berisi anggur murni kepada Odiseus. Karena tidak segera meninggalkan kota itu pada malam yang sama, anak buah Odiseus diserang oleh bangsa Kikones, yang telah pergi meminta bantuan kepada bangsa-bangsa tetangga. Setelah kehilangan enam orang anak buahnya, Odiseus terpaksa melarikan diri dengan tergesa-gesa.[55][56]
Setelah itu, Odiseus dan para anak buahnya yang tersisa tiba di sebuah pulau yang dihuni para Penyantap Teratai. Di sana, mereka menemukan buah yang memabukkan, yang membuat siapapun yang memakannya melupakan keinginan untuk pulang. Di pulau lain, mereka ditangkap oleh Kiklops Polifemos. Odiseus dengan cerdik memperkenalkan dirinya sebagai "Tak Seorangpun" (Yunani: Οὔτις). Ia kemudian menyuguhkan anggur pemberian Maron kepada Polifemos hingga sang Kiklops mabuk dan tertidur. Selagi Polifemos terlelap, Odiseus dan anak buahnya mengambil sebuah pasak kayu, memanaskannya di atas api, lalu menghunjamkannya ke mata Polifemos hingga ia menjadi buta. Ketika mereka melarikan diri, Polifemos menjerit kesakitan dan para Kiklops lainnya bertanya apa yang terjadi. Polifemos menjawab, "'Tak Seorangpun' telah membutakanku!" sehingga mereka mengira ia telah kehilangan akal. Odiseus dan anak buahnya berhasil melarikan diri. Namun, setelah mereka berlayar menjauh dari pulau itu, Odiseus dengan congkak meneriakkan nama aslinya kepada Polifemos. Polifemos kemudian memohon kepada ayahnya, Poseidon, agar membalas dendam kepada Odiseus.
Setelah itu mereka singgah di tempat Aiolos, penguasa angin, yang menghadiahkan kepada Odiseus sebuah kantong kulit berisi seluruh angin kecuali angin barat, sehingga seharusnya mereka dapat berlayar pulang dengan selamat. Akan tetapi, ketika mereka hampir tiba di Itaka, saat Odiseus tertidur, para awak kapal membuka kantong itu karena mengira isinya emas. Seluruh angin pun lepas, dan mereka pun kembali tersesat. Setelah itu, seluruh kapal mereka, kecuali satu kapal yang ditumpangi Odiseus, dihancurkan oleh para raksasa pemakan manusia yang disebut Laistrigones. Di Pulau Aiaia, setelah menjamu para anak buah Odiseus dengan keju dan anggur, Dewi Kirke mengubah mereka menjadi babi. Hermes membantu Odiseus agar kebal terhadap sihir Kirke dengan memberikan herba ajaib bernama moly, lalu Odiseus memaksa sang dewi untuk mengembalikan anak buahnya ke wujud semula. Odiseus dan Kirke kemudian menjalin hubungan asmara selama satu tahun sebelum akhirnya Odiseus memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Selanjutnya, Odiseus pergi ke tepian Okeanos, tempat orang-orang yang masih hidup dapat berbicara dengan arwah orang mati. Arwah peramal Tiresias memberi tahu Odiseus bahwa ia akan berhasil pulang, tetapi pada akhirnya harus menjalani satu perjalanan lagi. Odiseus juga bertemu dengan arwah ibunya, Antikleia, serta rekan-rekannya yang telah meninggal, Agamemnon dan Akhilles.

Selanjutnya, Odiseus dan anak buahnya berlayar melewati kawasan para Siren, makhluk yang nyanyiannya memikat para pelaut dan membawa mereka menemui ajal. Atas petunjuk Kirke, para awak kapal menyumbat telinga mereka dengan lilin lebah agar tidak mendengar nyanyian tersebut, sedangkan Odiseus meminta agar dirinya diikat pada tiang kapal sehingga ia tetap dapat mendengar nyanyian para Siren tanpa membahayakan anak buahnya. Setelah itu, mereka berhasil melewati selat sempit di antara pusaran air Kharibdis dan raksasa berkepala enam, Skilla, meskipun Skilla memangsa enam awak kapal Odiseus. Perjalanan kemudian membawa mereka ke Pulau Thrinakia. Di sana, meskipun telah diperingatkan agar tidak menyentuh ternak suci milik dewa matahari, Helios, para anak buah Odiseus tetap menyembelih dan memakannya ketika Odiseus sedang tertidur. Helios meminta Zeus menghukum mereka, dan Zeus pun mengabulkan permintaan tersebut dengan menghancurkan kapal terakhir mereka menggunakan sambaran petir. Odiseus selamat, tetapi semua anak buahnya tewas. Ia akhirnya terdampar di Pulau Ogigia. Di sana, ia bertemu dengan nimfa Kalipso, yang menyanderanya sebagai kekasih selama tujuh tahun hingga Hermes akhirnya datang untuk memerintahkan pembebasannya.
Setelah mendengar kisah pengembaraan Odiseus, bangsa Faiakia mengantarkannya kembali ke Itaka. Athena kemudian menyamarkannya sebagai seorang pengemis tua. Tanpa mengetahui jati diri Odiseus yang sebenarnya, Eumaios sang penggembala babi menyambutnya dengan menyediakan tempat bermalam dan makanan. Sementara itu, Telemakhos berhasil pulang dari Sparta setelah menghindari penyergapan yang direncanakan para pelamar. Odiseus kemudian membuka jati dirinya kepada Telemakhos, dan keduanya menyusun rencana untuk melancarkan pembalasan terhadap para pelamar. Ketika kembali ke istana, anjing tua Odiseus yang setia, Argos, mengenalinya meskipun tuannya itu sedang menyamar. Setelah bertahan hidup cukup lama untuk menyaksikan kepulangan Odiseus, Argos akhirnya mati dengan tenang. Para pelamar menghina dan memperlakukan Odiseus dengan buruk di rumahnya sendiri. Odiseus dan Telemakhos kemudian menyembunyikan senjata-senjata yang dapat digunakan para pelamar sebagai persiapan untuk melancarkan pembalasan. Odiseus juga bertemu kembali dengan Penelope dan pelayannya, Eurikleia, yang mengenalinya melalui bekas luka di kakinya.
Penelope mengumumkan bahwa ia siap menikah kembali dan akan memilih laki-laki yang mampu memenangkan sayembara memanah menggunakan busur milik Odiseus. Setelah semua pelamar gagal bahkan untuk sekadar memasang tali pada busur tersebut, Odiseus, yang masih menyamar sebagai seorang pengemis tua, berhasil memasangnya dan melepaskan sebuah anak panah yang menembus lubang pada dua belas mata kapak yang disusun berjajar. Setelah memenangkan sayembara itu, Odiseus membunuh para pelamar. Telemakhos kemudian menjatuhkan hukuman gantung kepada para budak perempuan yang telah berhubungan seksual dengan para pelamar. Odiseus lalu mengungkap jati dirinya kepada Penelope. Karena masih belum yakin, Penelope menguji Odiseus dengan meminta agar ranjang mereka dipindahkan dari kamar pengantin mereka, tetapi Odiseus menjawab bahwa hal itu mustahil dilakukan karena ranjang tersebut dibuatnya dari batang pohon zaitun hidup. Jawaban ini pun meyakinkan Penelope bahwa suaminya benar-benar telah kembali. Ia akhirnya menerima Odiseus, dan keduanya pun bersatu kembali.
Keesokan harinya, setelah Odiseus membuka jati dirinya kepada ayahnya, Laertes, keluarga para pelamar yang terbunuh berkumpul untuk membalas kematian anggota keluarga mereka. Athena kemudian turun tangan dan menghentikan pertumpahan darah lebih lanjut.
Gaya
[sunting | sunting sumber]Struktur
[sunting | sunting sumber]
Narasi Odisseia dimulai in medias res (terj. har. 'di tengah-tengah cerita keseluruhan'), sementara peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya diceritakan melalui kilas balik dan tuturan para tokoh.[57]
Pada zaman Yunani Klasik, beberapa buku atau bagian dari suatu karya sastra diberi judul tersendiri. Buku I hingga IV dalam Odisseia, yang berfokus pada sudut pandang Telemakhos, dikenal sebagai Telemakhia.[58] Buku IX hingga XII, yang berisi penuturan Odiseus mengenai pengembaraannya, dikenal sebagai Apologos atau Apologoi.[54][59] Buku XXII dikenal dengan nama Mnesterophonia (mnesteres, 'para pelamar' + phonos, 'pembantaian').[60] Buku XXII secara umum dianggap sebagai penutup Siklus Wiracarita Yunani, meskipun masih terdapat fragmen-fragmen dari sekuel yang telah hilang, yang dikenal sebagai Telegonia.[61]
Masih terdapat perdebatan tentang apa yang dapat dianggap sebagai Odisseia "asli". Sebagian cendekiawan berpendapat bahwa Telemakhia merupakan tambahan yang dibuat belakangan, sedangkan yang lain berpendapat bahwa bagian-bagian selanjutnya dalam Odisseia tidak dapat dipahami tanpa keberadaan buku-buku tersebut.[62] Demikian pula, penutup puisi ini telah menjadi bahan perdebatan sejak zaman kuno. Aristarkos dari Samotrakia dan Aristofanes dari Bizantium menganggap bahwa akhir Odisseia yang sebenarnya terdapat pada baris 293–295 dalam Buku XXIII. Perdebatan serupa mengenai penutup puisi tersebut masih terus berlangsung hingga kini.[63]
Narasi dan bahasa
[sunting | sunting sumber]Odiseia terdiri atas 12.109 baris yang digubah dalam metrum heksameter daktilik, yang kadang-kadang juga disebut sebagai heksameter Homerik, yaitu pola metrum yang terdiri atas enam kaki metrik.[64][65] Bentuk heksameter ini bersifat katalektik, yakni tidak memiliki suku kata yang seharusnya muncul pada kaki metrik terakhir. Setiap baris terdiri atas dua belas hingga tujuh belas suku kata dan umumnya membentuk satu kalimat yang utuh secara gramatikal.[27] Puisi-puisi Homeros kemungkinan mewarisi sejumlah tradisi stilistika, tetapi juga menciptakan sejumlah gaya baru.[66]
Narasi dalam Odisseia terutama disampaikan melalui tuturan para tokohnya, yakni ketika mereka berbicara kepada diri sendiri atau kepada tokoh lain.[67] Oleh karena itu, para tokoh sering kali berperan sebagai narator di samping narator Homeros, dan perkataan mereka menjadi sarana utama dalam pembentukan karakter tokoh.[68]
Bahasa yang digunakan dalam Odisseia bersifat sederhana, lugas, dan mengalir dengan cepat.[69] Meskipun demikian, gaya bahasanya bersifat sastra; kosakata yang digunakan kemungkinan tidak pernah menjadi bahasa vernakular masyarakat Yunani mana pun.[70] Salah satu ciri penting bahasa Homeros adalah penggunaan simile Homeros. Simile ini merupakan metafora perbandingan yang dapat berbentuk panjang[g] maupun pendek,[72] dan umumnya diambil dari alam atau kehidupan sehari-hari. Filolog klasik Irene de Jong menjelaskan bahwa simile-simile tersebut bersifat "omni-temporal", yakni dapat menggunakan kala kini sederhana, kala epik (memadukan kala lampau dan kala kini), atau menyatakan kebenaran yang bersifat umum (gnomic aorist).[73] Fungsinya beragam, antara lain untuk membangun karakter tokoh dan memperkuat tema.[74] Secara tradisional, simile Homeros dipandang sebagai cikal bakal simile dalam sastra Eropa. Namun, pandangan tersebut telah diperdebatkan, misalnya oleh Oliver Taplin, seorang filolog Britania.[75] Para cendekiawan modern pada umumnya sepakat bahwa simile Homeros merupakan bagian dari tradisi lisan tempat epos-epos tersebut berkembang, meskipun sejumlah penulis terdahulu terkadang berpendapat bahwa simile-simile itu ditambahkan oleh satu atau beberapa penyair pada masa berikutnya.[76]
Salah satu unsur penting dalam karya-karya Homeros adalah penggunaan epitet. Dalam bahasa Inggris, epitet ini sering diterjemahkan sebagai kata sifat majemuk, seperti much-nourished atau much-nourishing.[77]
Tema dan pola
[sunting | sunting sumber]Kepulangan
[sunting | sunting sumber]
Kepulangan (Yunani Kuno: νόστος, nostos) merupakan salah satu tema utama dalam Odisseia.[78] Kata Yunani nostos dapat merujuk baik pada perjalanan pulang melalui laut maupun pada kisah-kisah yang bertemakan kepulangan.[79][80] Filolog klasik Agathe Thornton mencatat bahwa nostos berkaitan dengan kepulangan para pahlawan Akhaia setelah kemenangan mereka dalam Perang Troya, tetapi narator Odisseia memusatkan perhatian pada Odiseus dan menjadikan kisah kepulangan para pahlawan Akhaia lainnya sebagai bagian dari narasinya.[81]
Setelah Agamemnon pulang ke tanah airnya, ia dibunuh oleh istrinya, Klitaimnestra, dan kekasih sang istri, Aigisthos. Putra Agamemnon, Orestes, kemudian membunuh Aigisthos sebagai tindakan balas dendam. Kisah ini menjadi paralel dengan pembunuhan para pelamar oleh Odiseus; Athena dan Nestor bahkan menjadikan Orestes sebagai teladan bagi Telemakhos untuk mendorongnya bertindak.[82] Ketika Odiseus melakukan perjalanan ke dunia bawah, arwah Agamemnon menceritakan pengkhianatan Klitaimnestra kepadanya. Setelah Odiseus tiba di Itaka, Athena menyamarkannya sebagai seorang pengemis agar ia dapat menguji kesetiaan istrinya, Penelope.[83]
Pada akhirnya, Agamemnon memuji Penelope karena ia tidak mengkhianati maupun membunuh Odiseus. Kesetiaan Penelope memastikan Odiseus meraih kemasyhuran sekaligus kepulangan yang berhasil, berbeda dengan nasib sebagian besar pahlawan Akhaia lainnya. Kepulangan Agamemnon yang gagal berakhir dengan kematiannya, sedangkan Akhilles memperoleh kemasyhuran tetapi gugur sehingga ia tidak pernah mengalami kepulangan.[84]
Pengembaraan
[sunting | sunting sumber]Sebelum Odiseus tiba di Itaka, narator hanya menceritakan dua bagian dari pengembaraannya. Selebihnya, kisah-kisah pengembaraan Odiseus dituturkan oleh Odiseus sendiri. Kedua bagian yang diceritakan langsung oleh narator adalah ketika Odiseus berada di pulau tempat tinggal Kalipso dan ketika ia bertemu dengan bangsa Faiakia. Menurut para ahli, kedua bagian ini menggambarkan suatu peralihan penting dalam perjalanan Odiseus, yakni dari keadaan tersembunyi menuju kepulangannya.[85]
Nama Kalipso berasal dari kata Yunani kalúptō (καλύπτω), yang berarti 'menutupi' atau 'menyembunyikan', sesuai dengan perannya terhadap Odiseus.[86] Kalipso menyembunyikan Odiseus dari dunia sehingga ia tidak dapat pulang ke tanah airnya. Setelah Odiseus meninggalkan pulau Kalipso, penyair menggambarkan pertemuannya dengan bangsa Faiakia, yakni mereka yang "mengantar semua orang pulang dengan selamat".[87] Pertemuan ini melambangkan peralihan Odiseus dari keadaan tidak dapat pulang menuju kepulangannya.[85]
Selama pengembaraannya, Odiseus juga berjumpa dengan banyak makhluk yang memiliki hubungan dekat dengan para dewa. Pertemuan-pertemuan ini membantu menunjukkan bahwa Odiseus sedang berada di suatu dunia yang melampaui dunia manusia, yang turut menjelaskan mengapa ia tidak dapat segera pulang.[85] Makhluk-makhluk tersebut mencakup bangsa Faiakia, yang tinggal di dekat wilayah para Kiklops.[88] Raja mereka, Alkinoos, merupakan cicit Eurimedon, raja para raksasa sekaligus cucu Poseidon.[85] Tokoh-tokoh lain yang ditemui Odiseus meliputi Kiklops Polifemos, putra Poseidon; Kirke, seorang penyihir yang mengubah manusia menjadi hewan; serta para Laistrigones, bangsa raksasa pemakan manusia.[85]
Keramahtamahan terhadap tamu
[sunting | sunting sumber]
Sepanjang kisah dalam Odisseia, Odiseus berhadapan dengan berbagai bentuk xenia ('keramahtamahan terhadap tamu'), yang menjadi contoh mengenai bagaimana seorang tuan rumah seharusnya maupun tidak seharusnya memperlakukan tamunya.[[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|
Menurut filolog klasik J. B. Hainsworth, xenia mengikuti pola yang sangat khas:[92]
- Kedatangan dan penyambutan tamu.
- Memandikan tamu atau menyediakan pakaian bersih baginya.
- Menyediakan makanan dan minuman bagi tamu.
- Tuan rumah mengajukan pertanyaan kepada tamu serta memberikan hiburan.
- Menyediakan tempat bermalam bagi tamu, kemudian tamu dan tuan rumah beristirahat untuk malam itu.
- Tamu dan tuan rumah saling bertukar hadiah, tamu diberi jaminan perjalanan pulang yang aman, lalu meninggalkan rumah tuan rumah.
Unsur penting lain dalam xenia adalah bahwa seorang tamu tidak boleh ditahan lebih lama daripada yang diinginkannya, dan keselamatannya harus dijamin selama ia berada di rumah tuan rumah.[[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|
Pengujian
[sunting | sunting sumber]
Tema lain yang terus muncul dalam Odisseia adalah pengujian.[94] Tema ini muncul dalam dua bentuk yang berbeda. Odiseus menguji kesetiaan tokoh-tokoh lain, sementara tokoh-tokoh lain menguji jati diri Odiseus. Salah satu contoh ketika Odiseus menguji kesetiaan orang lain terjadi saat ia pulang ke Itaka.[94] Alih-alih segera membuka jati dirinya, ia datang dengan menyamar sebagai seorang pengemis, dan kemudian berusaha mengetahui siapa saja di rumahnya yang masih setia kepadanya dan siapa yang telah membantu para pelamar. Setelah Odiseus membuka jati dirinya yang sebenarnya, tokoh-tokoh lain kemudian menguji identitasnya untuk memastikan bahwa ia benar-benar Odiseus.[94] Misalnya, Penelope menguji identitas Odiseus dengan mengatakan bahwa ia akan memindahkan ranjang mereka ke ruangan lain. Permintaan tersebut mustahil dipenuhi karena ranjang itu dibuat dari batang pohon zaitun yang masih hidup, sehingga hal itu hanya bisa dilakukan jika dilakukan pemotongan terhadap pohon. Hal tersebut hanya diketahui oleh Odiseus, dan dengan demikian, identitasnya pun terbukti benar.[94]
Pengujian juga memiliki pola adegan yang khas. Sepanjang epos ini, pengujian terhadap tokoh lain umumnya mengikuti urutan sebagai berikut:[94][93]
- Odiseus ragu-ragu untuk mempertanyakan kesetiaan orang lain.
- Odiseus menguji kesetiaan mereka melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya.
- Tokoh-tokoh tersebut menjawab pertanyaan Odiseus.
- Odiseus kemudian membuka jati dirinya.
- Tokoh-tokoh lain menguji jati diri Odiseus.
- Munculnya emosi yang kuat setelah mereka mengenali Odiseus, biasanya berupa ratapan atau kegembiraan.
- Pada akhirnya, tokoh-tokoh yang telah berdamai menjalin kerja sama.
Pertanda
[sunting | sunting sumber]
Pertanda kerap muncul di sepanjang Odisseia. Dalam epos ini, pertanda paling sering hadir dalam bentuk burung.[95] Menurut Thornton, hal yang paling penting bukanlah jenis pertandanya, melainkan siapa yang menerimanya dan bagaimana pertanda itu dinyatakan. Sebagai contoh, pertanda berupa burung diperlihatkan kepada Telemakhos, Penelope, Odiseus, dan para pelamar.[95] Telemakhos dan Penelope juga menerima pertanda dalam bentuk kata-kata, bersin, dan mimpi.[95] Namun, Odiseus merupakan satu-satunya tokoh yang menerima guruh atau kilat sebagai pertanda.[96][97] Thornton menilai hal ini sangat penting karena kilat, sebagai lambang Zeus, melambangkan legitimasi Odiseus sebagai raja.[95] Hubungan antara Odiseus dan Zeus juga tampak di sepanjang Ilias maupun Odisseia.[98]
Pertanda juga merupakan salah satu pola adegan khas dalam Odisseia. Dua unsur terpenting dalam pola adegan pertanda adalah pengenalan terhadap pertanda, yang kemudian diikuti dengan penafsirannya.[95] Dalam Odisseia, semua pertanda yang melibatkan burung—kecuali yang pertama—memperlihatkan burung-burung besar menyerang burung-burung yang lebih kecil.[95][93] Setiap pertanda disertai dengan suatu harapan, baik yang diungkapkan secara langsung maupun hanya secara tersirat.[95] Sebagai contoh, Telemakhos berharap dapat membalas dendam[99] dan agar Odiseus segera pulang,[100] Penelope berharap Odiseus kembali,[101] sedangkan para pelamar mengharapkan kematian Telemakhos.[102]
Penerimaan
[sunting | sunting sumber]Era praklasik hingga akhir zaman kuno
[sunting | sunting sumber]Dalam masyarakat Yunani, Homeros dipandang luas sebagai penyair yang sangat berbakat sekaligus didaktis, yang mengajarkan berbagai hal kepada para pendengarnya, mulai dari filsafat hingga ilmu pengetahuan.[103] Pada masa Yunani Arkaik maupun Yunani Klasik, masyarakat terutama mengenal kedua epos Homeros melalui pertunjukan lisan,[104] meskipun kedudukan kedua epos tersebut di kalangan masyarakat pada awal periode Arkais (840–700 SM) masih belum diketahui secara pasti.[4] Para cendekiawan di setidaknya dua perpustakaan kuno, Perpustakaan Aleksandria dan Perpustakaan Pergamon,[h] mengkaji berbagai versi kuno epos-epos Homeros.[20] Di antara mereka ialah Zenodotos dari Ephesos (awal abad ke-3 SM), Aristofanes dari Bizantium (awal abad ke-2 SM), dan Aristarkos dari Samotrakia (pertengahan abad ke-2 SM).[106]
Kajian pada zaman kuno membahas berbagai persoalan, termasuk, misalnya, ketidakkonsistenan dalam alur cerita.[107] Penafsiran alegoris merupakan salah satu pendekatan yang sangat populer.[108] Menurut filolog klasik Emily Wilson, pendekatan tersebut memungkinkan para cendekiawan "memahami adegan-adegan dalam Odisseia yang membingungkan atau mengusik".[109] Penafsiran alegoris juga digunakan untuk membela Homeros dari kritik yang pernah dikemukakan oleh filsuf Xenofanes pada abad ke-6 atau ke-5 SM,[110] yakni bahwa Homeros telah menghina para dewa.[111][112] Namun, penafsiran tersebut ditolak oleh para cendekiawan Aleksandria karena dianggap terlalu menyederhanakan persoalan.[112] Cendekiawan Pergamon, Krates dari Mallos, menafsirkan epos-epos tersebut sebagai karya yang mengandung pemahaman alegoris mengenai kosmologi dan geografi.[105] Herakleitos (abad ke-1 M) dan Porfirios (abad ke-3 M) juga menulis penafsiran alegoris.[111][113] Dalam Persoalan Homerik—satu-satunya karya panjang mengenai eksegesis Homeros yang masih bertahan dari zaman kuno—Porfirios membatasi pembahasannya hanya pada persoalan-persoalan yang dapat dijelaskan berdasarkan teks Homeros itu sendiri.[i][118] Dalam karya berikutnya, De Antro Nympharum (Tentang Gua Para Nimfa), ia meninggalkan pendekatan tersebut dan beralih kepada penafsiran alegoris, dengan memaknai gua-gua para nimfa sebagai lambang kehidupan manusia.[119][108] Sementara itu, Herakleitos berpendapat bahwa pertemuan Telemakhos dengan Athena melambangkan "perkembangan akal budi" seiring pendewasaannya.[108]
Banyak edisi kuno epos Homeros pernah beredar; Perpustakaan Aleksandria menyimpan sejumlah di antaranya.[120] Berdasarkan keterangan yang berasal dari komentar cendekiawan abad ke-1 SM, Didimos, versi-versi kuno tersebut dibedakan menjadi "edisi kota" dan "edisi perorangan".[j] Edisi kota kemungkinan disusun di suatu kota tertentu—barangkali sebagai versi "resmi"—sedangkan edisi perorangan disusun secara mandiri oleh para cendekiawan.[122] Didimos menyebutkan sejumlah edisi perorangan yang dimiliki oleh Antimakhos, Aristofanes dari Bizantium, Sosigenes,[122] Rhianos dari Kreta, Kallistratos, dan Filemon.[122] Adapun edisi kota diketahui berasal dari Aiolis, Argos, Siprus, dan Massalia.[k][122] Baik Ilias maupun Odisseia dijadikan bahan ajar di wilayah-wilayah yang menggunakan bahasa Yunani.[124][125] Kedua epos tersebut kemungkinan merupakan bagian dari kurikulum pendidikan bagi kalangan elite di Athena Klasik[126] maupun di Kekaisaran Romawi. Keduanya dipandang sebagai sarana mempelajari keterampilan retorika[127][l] serta dijadikan bahan bacaan.[m] Perang Troya beserta para tokohnya telah lama menjadi rujukan penting dalam mitologi dan sejarah Romawi[129] sehingga bangsa Romawi dengan mudah menyerap karya-karya Homeros ke dalam kebudayaan mereka dan meneruskan tradisinya ke wilayah timur maupun barat.[4]
Penaklukan Aleksander Agung menyebarluaskan pengaruh kebudayaan Helenistik ke seluruh kawasan Mediterania Timur, sehingga karya-karya Homeros dibaca oleh hampir setiap anak sekolah di dunia Yunani.[130] Pada abad ke-6 M, puisi-puisi Homeros telah memperoleh kedudukan kanonis dalam lembaga-lembaga pendidikan di Athena kuno.[131] Tiran Athena, Peisistratos, atau putranya, Hipparkhos, menyelenggarakan perayaan keagamaan dan kenegaraan Panathena yang kemungkinan menampilkan pembacaan puisi-puisi Homeros.[132][133][n] Dalam perayaan tersebut, sebuah versi yang dianggap "benar" harus dipertunjukkan, yang mungkin menunjukkan bahwa suatu versi teks telah dikanonisasi.[3][o] Kemungkinan yang dipertunjukkan hanyalah bagian-bagian tertentu dari puisi-puisi tersebut[134] dan kecil kemungkinan seluruh epos dipentaskan tanpa jeda.[135]
Trifiodoros menulis sebuah Odisseia lipogramatik, yang setiap bukunya sengaja disusun tanpa menggunakan satu huruf tertentu dari alfabet Yunani; huruf yang dihilangkan berbeda-beda pada setiap buku.[136]
Era pascaklasik
[sunting | sunting sumber]Melampaui zaman klasik hingga memasuki era Bizantium, penyebaran bahasa Yunani—beserta penerjemahan internal terhadap karya-karya Homeros seiring meluasnya penggunaan bahasa tersebut—membuat Odisseia tetap relevan dan mempertahankan kedudukannya.[p] Armstrong berpendapat bahwa tanpa proses tersebut, Ilias dan Odisseia mungkin telah lenyap dari ingatan, sebagaimana yang terjadi pada Beowulf.[138] Pandangan ortodoks Bizantium menyatakan bahwa Homeros menggubah kedua epos tersebut bersama Himne Homeros dan Batrachomyomakhia, meskipun terdapat keraguan filologis terhadap Batrachomyomakhia.[139] Kedua epos Homeros tetap dipelajari secara luas sepanjang Abad Pertengahan dan digunakan sebagai bahan ajar di lingkungan Kekaisaran Bizantium.[124][125] Bahasa Yunani Homeros tergolong sulit dipahami oleh para pelajar Bizantium sehingga diperlukan parateks untuk menjelaskan rujukan-rujukan gramatikal dan mitologis.[140] Sebagian besar kajian Bizantium yang masih bertahan hingga kini pada mulanya disusun sebagai bahan pembelajaran.[141][q] Para pelajar kemungkinan tidak memiliki salinan fisik kedua epos tersebut, meskipun beberapa naskah mungkin disediakan bagi mereka yang berbakat. Mereka belajar terutama melalui teknik dikte dan pengulangan.[144]
Menurut Lamberton, pembaca kedua epos tersebut mengalami perubahan pada periode Bizantium pertengahan. Jika sebelumnya kedua epos tersebut merupakan ranah para ahli tata bahasa dan pelajar, pada periode Bizantium pertengahan, masyarakat mulai membacanya untuk memperoleh kenikmatan sekaligus mempertanyakan bagaimana kisah-kisah dalam Ilias dan Odisseia berhubungan dengan keseluruhan tradisi kisah Perang Troya.[145] Pada abad ke-12, penyair Yohanes Tzetzes menyusun Alegori-Alegori Homerik yang merangkum Odisseia beserta sejumlah karya lainnya untuk permaisuri Kaisar Manouel I Komnenos.[145] Menurut Mavroudi, karya Tzetzes memadukan konsep-konsep budaya dari masa Homeros dan Bizantium; Tzetzes membandingkan Manouel I dengan tokoh-tokoh raja seperti Zeus dan Agamemnon[146] serta menggambarkan Odiseus dengan perut yang buncit.[147]
Penafsiran versi Bizantium dipengaruhi oleh Persoalan Homerik karya Porfirios melalui para cendekiawan Neopythagorean dan Neoplatonis.[148][149] Cendekiawan sekaligus uskup agung Bizantium, Eustathios dari Tesalonika (sekitar 1115–sekitar 1195/1196 M), menyusun komentar yang sangat lengkap atas kedua epos Homeros dan dianggap sebagai rujukan otoritatif oleh generasi-generasi setelahnya.[124][125] Komentarnya atas Odisseia saja mencapai hampir 2.000 halaman berukuran besar dalam edisi abad ke-20.[124] Edisi cetak pertama, atau editio princeps Odisseia,[r] diterbitkan pada tahun 1488 oleh Demetrios Khalkokondyles, seorang cendekiawan Yunani yang lahir di Athena dan menempuh pendidikan di Konstantinopel.[124][125] Edisi tersebut dicetak di Milan oleh seorang pencetak berkebangsaan Yunani bernama Antonios Damilas.[125]
Awal era modern
[sunting | sunting sumber]
Selama Perdebatan Kaum Kuno dan Kaum Modern, yaitu perdebatan seni yang berlangsung di Prancis pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, Odisseia dan Ilias menjadi dua karya yang paling banyak diperdebatkan. Karya-karya Homeros dikritik oleh para penulis seperti Jean Desmarets, Pierre Bayle, dan Charles Perrault.[151] Menurut klasikis Amerika Howard Clarke, Perrault menghindari kecaman secara langsung terhadap kedua epos tersebut karena pada saat itu Prancis belum memiliki epos nasional. Sebagai gantinya, ia hanya memberikan "pujian yang bersifat formal" kepada Homeros dengan menyebutnya sebagai "Bapak Segala Kesenian". Tokoh-tokoh yang membela kedua epos dan Homeros antara lain Jean de La Fontaine dan Nicolas Boileau-Despréaux.[151] Perdebatan tersebut sempat mereda pada tahun 1700, tetapi kembali memanas ketika cendekiawan Prancis Anne Dacier, penerjemah sekaligus pembela garis keras Homeros, berhadapan dengan Antoine Houdar de La Motte, pendukung Kaum Modern.[152] Terjemahan Homeros karya Dacier disertai pendahuluan sepanjang 90 halaman yang menanggapi kritik Perrault dan tokoh-tokoh Kaum Modern lainnya. Sebagai tanggapan, Houdar de La Motte menyampaikan sanggahannya melalui terjemahan Homeros versinya yang dipersingkat, yang kemudian dijawab kembali oleh Dacier dalam sebuah bantahan sepanjang 600 halaman. Pada tahun 1716, kedua belah pihak akhirnya menyepakati penghentian sementara perdebatan tersebut.[153]
Sebagai bagian dari Perdebatan Kaum Kuno dan Kaum Modern, mulai muncul keraguan terhadap pandangan tradisional yang menganggap Homeros sebagai seorang penyair tunggal.[154] François Hédelin, Abbé d'Aubignac, mengkritik kesinambungan tema dalam karya-karya Homeros dan bahasanya, serta menyoroti bahwa hampir tidak ada informasi yang diketahui mengenai kehidupannya.[155] Perrault mengemukakan bahwa kedua epos tersebut ditulis oleh penyair-penyair yang berbeda, yang kemungkinan masing-masing berasal dari kota yang mengaku sebagai tempat kelahiran Homeros, sebelum kemudian dihimpun menjadi satu.[156] Richard Bentley berpendapat bahwa tiran Athena, Peisistratos, menghimpun berbagai nyanyian yang berbeda sekitar lima ratus tahun setelah karya-karya tersebut pertama kali digubah.[157] Penelitiannya juga menunjukkan bahwa bahasa Yunani Homeros berbeda dari bahasa Yunani pada periode klasik.[5]
Era modern
[sunting | sunting sumber]Pada awal abad ke-20, Milman Parry dan Albert Lord menunjukkan bahwa para penyanyi yang buta huruf dapat memanfaatkan bahasa formulaik untuk mengimprovisasi puisi-puisi panjang sebagaimana yang terdapat dalam bahasa Yunani Homeros.[14] Dari 27.803 baris dalam naskah asli kedua epos tersebut, sekitar 9.200 merupakan pengulangan, mulai dari kelompok kata hingga bagian-bagian yang utuh.[158] Penelitian mereka secara meyakinkan menunjukkan bahwa karya-karya Homeros terbentuk sebagai puisi lisan.[159] Parry dan Lord meneliti tradisi epos Slavia Selatan yang terinspirasi oleh penelitian filolog Matija Murko.[14] Disertasi doktoral Parry membahas epitet Homeros tradisional dengan bertumpu pada penelitian linguis Prancis Antoine Meillet, tetapi ia baru sepenuhnya memahami makna penting temuannya setelah melakukan penelitian lapangan bersama Lord di Yugoslavia.[160][s] Menjelang akhir abad ke-20, kajian mengenai Homeros semakin berkembang ke arah pendekatan antardisiplin dengan memadukan penelitian sastra dengan emuan-temuan dari bidang arkeologi dan agama.[66]
Warisan
[sunting | sunting sumber]
Pengaruh teks-teks Homeros terhadap imajinasi masyarakat dan nilai-nilai budaya begitu besar sehingga sulit diuraikan secara singkat.[162] Odisseia dan Ilias menjadi dasar pendidikan bagi masyarakat Mediterania kuno. Kurikulum tersebut kemudian diadopsi oleh para humanis Barat,[163] sehingga kedua karya itu menjadi bagian yang begitu menyatu dengan khazanah budaya hingga memengaruhi mereka yang bahkan belum pernah membacanya.[164] Robert Browning, seorang sejarawan Bizantium, menyatakan bahwa kajian atas epos Homeros yang dilakukan di Perpustakaan Aleksandria telah "meletakkan dasar" bagi "tradisi literasi dan kajian filologi di Eropa".[112] Kedua epos tersebut menandai awal tradisi sastra Barat dan, menurut filolog klasik Corinne Ondine Pache, memiliki pengaruh yang tiada bandingnya.[11] Selama lebih dari satu milenium, Odisseia terus bergema dalam dunia sastra; sebuah jajak pendapat terhadap para ahli yang dilakukan oleh BBC Culture menobatkannya sebagai kisah yang paling bertahan lama dalam sejarah sastra.[165]
Terjemahan
[sunting | sunting sumber]Livius Andronicus menulis Odusia, sebuah terjemahan Odisseia ke dalam bahasa Latin.[166] Tidak banyak yang diketahui mengenai keseluruhan karya tersebut, yang kemungkinan bukan sekadar terjemahan biasa.[167] Namun, fragmen-fragmen yang masih bertahan menunjukkan bahwa gaya bahasanya lebih formal daripada karya aslinya, dan Livius mengalihgunakan citraan Homerik dari satu bagian puisi ke bagian lainnya.[168] Odusia karya Livius kemudian dijadikan bacaan di sekolah-sekolah bagi para pelajar bahasa Latin. Cendekiawan Michael von Albrecht bahkan menyatakan bahwa terjemahan versi tersebut "dipaksakan" kepada Horatius semasa muda.[169] Pada tahun 1354, Nicholas Sigeros memberikan manuskrip Ilias dan Odisseia kepada Petrarca.[t] Rekan korespondensi Petrarca, Giovanni Boccaccio, kemudian membujuk seorang biarawan bernama Leontius Pilatus untuk menerjemahkan kedua epos tersebut ke dalam prosa Latin. Pilatus berhasil menyelesaikan terjemahan Ilias, tetapi hanya hampir menuntaskan terjemahan Odisseia.[170] Edisi cetak pertama dalam bahasa Yunani diterbitkan di Milan pada tahun 1488 oleh Demetrios Khalkokondyles, seorang cendekiawan Yunani yang menetap di Firenze.[171]
Sejak abad ke-16, terjemahan-terjemahan Odisseia yang dicetak dalam berbagai bahasa Eropa modern mulai bermunculan dalam jumlah besar,[172] meskipun banyak di antaranya masih berupa terjemahan sebagian.[173] Edisi yang paling populer pada abad tersebut adalah terjemahan Latin harfiah karya Andreas Divus.[172] Terjemahan Odisseia lengkap pertama dalam bahasa Italia, yang ditulis dalam bentuk syair bebas oleh Girolamo Baccelli, diterbitkan pada tahun 1582.[174] Terjemahan lengkap pertama dalam bahasa Prancis disusun dalam bentuk bait berpasangan Aleksandrin oleh Salomon Certon dan diterbitkan pada tahun 1604.[173] Namun, terjemahan tersebut kehilangan popularitasnya setelah reformasi bahasa yang dilakukan oleh Académie Française pada dasawarsa 1630-an dan 1640-an.[175] Arthur Hall menjadi orang pertama yang menerjemahkan karya Homeros ke dalam bahasa Inggris melalui terjemahan sepuluh buku pertama Ilias yang diterbitkan pada tahun 1581,[174] dengan mengandalkan sebuah terjemahan bahasa Prancis.[176] George Chapman kemudian menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan terjemahan kedua epos Homeros ke dalam bahasa Inggris setelah menuntaskan terjemahan Odisseia.[177] Kedua terjemahan tersebut diterbitkan bersama pada tahun 1616, meskipun sebelumnya telah diterbitkan secara berseri, dan menjadi terjemahan modern pertama yang meraih keberhasilan luas.[178] Chapman mengerjakan penerjemahan karya-karya Homeros hampir sepanjang hidupnya,[179] dan hasil kerjanya kemudian mengilhami soneta On First Looking into Chapman's Homer karya John Keats (1816).[180] Emily Wilson menulis bahwa hampir semua penerjemah terkemuka karya sastra Yunani-Romawi adalah laki-laki,[181] dan ia berpendapat bahwa keadaan tersebut memengaruhi cara masyarakat memahami Odisseia.[182][u]
Terjemahan Ilias dan Odisseia karya Johann Heinrich Voss pada abad ke-18 merupakan salah satu karyanya yang paling mashyur[184][v] serta memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan bahasa Jerman.[185] Johann Wolfgang von Goethe menyebut terjemahan-terjemahan Voss sebagai mahakarya transformatif yang membangkitkan minat terhadap Helenisme di Jerman.[186] Anne Dacier menerjemahkan Ilias dan Odisseia ke dalam prosa Prancis,[w] yang masing-masing diterbitkan pada tahun 1711 dan 1716.[175] Terjemahan tersebut menjadi versi baku karya Homeros dalam bahasa Prancis hingga akhir abad ke-18.[188] Antoine Houdar de La Motte, yang tidak dapat membaca bahasa Yunani, menggunakan terjemahan Ilias karya Dacier sebagai dasar untuk menyusun versi ringkasnya sendiri, sekaligus mengkritik Homeros dalam kata pengantarnya.[152][x] Terjemahan Odisseia karya Dacier juga memberikan pengaruh besar terhadap terjemahan yang disusun Alexander Pope pada tahun 1720-an,[190][y] yang ia kerjakan terutama karena alasan keuangan beberapa tahun setelah menyelesaikan terjemahan Ilias.[191] Pope menerjemahkan dua belas buku sendiri, sedangkan dua belas buku lainnya dibagi antara Elijah Fenton dan William Broome; Broome juga menyusun anotasi untuk terjemahan tersebut.[192][193] Informasi mengenai pembagian pekerjaan itu kemudian tersebar ke publik, sehingga membahayakan reputasi dan keuntungan finansial Pope.[194] Terjemahan Odisseia pertama dalam bahasa Rusia kemungkinan adalah versi heksameter karya Vasily Zhukovsky yang diterbitkan pada tahun 1849.[195][196] Luo Niansheng mulai menerjemahkan Ilias ke dalam bahasa Mandarin pada akhir dasawarsa 1980-an, tetapi ia meninggal dunia pada tahun 1990 sebelum sempat menyelesaikannya. Muridnya, Wang Huansheng, kemudian menuntaskan proyek tersebut, dan hasilnya diterbitkan pada tahun 1994. Terjemahan Odisseia karya Wang Huansheng menyusul tiga tahun kemudian.[197]
Literatur
[sunting | sunting sumber]Dalam Canto XXVI Inferno, Dante Alighieri bertemu dengan Odiseus di lingkaran kedelapan neraka. Dalam karya tersebut, Odiseus memperoleh akhir cerita yang baru: ia terus melanjutkan pengembaraannya dan tidak pernah kembali ke Itaka.[[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|
Edith Hall mengatakan bahwa Odisseia telah dipandang sebagai "tempat lahir sastra fiksi". Dalam pengantarnya untuk Odisseia pada tahun 1932, T. E. Lawrence menyebutnya sebagai "novel terbaik yang pernah ditulis".[201] Di kalangan kritikus sastra Barat, Odisseia secara luas dianggap sebagai karya klasik yang tidak lekang oleh waktu,[202] dan hingga kini tetap menjadi salah satu karya sastra tertua yang terus dibaca oleh masyarakat Barat secara luas.[203] Akademisi Inggris, Brian Stableford, yang menggambarkan Odisseia sebagai salah satu pelopor fiksi ilmiah, menyatakan bahwa karya ini telah diadaptasi ke dalam genre fiksi ilmiah lebih sering daripada karya sastra lainnya.[204]
Novel modernis Ulyssess (1922) karya James Joyce sangat dipengaruhi oleh Odisseia. Joyce pertama kali mengenal tokoh Odiseus melalui Adventures of Ulysses karya Charles Lamb, sebuah adaptasi Odisseia untuk anak-anak, yang tampaknya membuat Joyce lebih akrab dengan bentuk Latin nama Odiseus.[205][206] Ulysses, yang merupakan penceritaan kembali Odisseia dengan latar kota Dublin, terbagi ke dalam delapan belas bagian ("episode") yang susunannya secara garis besar didasarkan pada dua puluh empat buku dalam Odisseia.[207] Joyce mengaku memahami bahasa Yunani Homeros, tetapi klaim tersebut diperdebatkan oleh sejumlah cendekiawan yang menilai penguasaannya terhadap bahasa itu tidak memadai.[208] Novel ini, dan terutama gaya prosanya yang menggunakan teknik arus kesadaran, secara luas dianggap sebagai salah satu karya yang meletakkan dasar bagi sastra modernis.[209] Pemanfaatan mitos oleh Joyce kemudian mengilhami The Hero with a Thousand Faces karya Joseph Campbell, yang berpendapat bahwa sebagian besar narasi, baik secara sadar maupun tidak sadar, mengikuti struktur "perjalanan sang pahlawan" yang serupa dengan Odisseia. Analisis Campbell memberikan pengaruh besar terhadap banyak karya budaya populer, meskipun sebagian besar cendekiawan masa kini menganggap pendekatannya terlalu menyederhanakan persoalan.[210][211]
Para penulis modern juga menafsirkan kembali Odisseia untuk menyoroti tokoh-tokoh perempuan di dalamnya. Penulis Kanada Margaret Atwood mengadaptasi sebagian kisah Odisseia ke dalam novela The Penelopiad (2005). Karya tersebut berfokus pada Penelope dan dua belas budak perempuan yang dihukum gantung oleh Odiseus pada akhir puisi,[212] sebuah gambaran yang terus membayangi pikiran Atwood.[213] Melalui novelanya, Atwood memberikan tafsir terhadap teks asli, yang menggambarkan bahwa keberhasilan Odiseus kembali ke Itaka juga berarti dipulihkannya kembali sistem patriarki.[213] Demikian pula, Circe (2018) karya Madeline Miller menafsirkan kembali hubungan antara Odiseus dan Kirke di Aiaia.[214] Sebagai pembaca, Miller merasa kecewa karena Kirke tampak tidak memiliki motivasi yang jelas dalam puisi asli, sehingga ia berusaha menjelaskan sifat Kirke yang berubah-ubah.[215] Dalam novel tersebut, tindakan Kirke mengubah para awak kapal menjadi babi tidak lagi digambarkan sebagai perbuatan yang didorong oleh niat jahat, melainkan sebagai tindakan membela diri yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya sebagai korban predator seksual.[216]
Film dan televisi
[sunting | sunting sumber]- L'Odissea (1911) film bisu Italia karya Giuseppe de Liguoro.[217]
- Ulysses (1954) adalah sebuah film adaptasi asal Italia yang dibintangi oleh Kirk Douglas sebagai Ulysses, Silvana Mangano sebagai Penelope dan Kirke, serta Anthony Quinn sebagai Antinoos.[218]
- L'Odissea (1968) adalah serial miniseri televisi produksi Italia-Prancis-Jerman-Yugoslavia yang dipuji karena kepatuhannya terhadap epos aslinya.[219]
- Ulysses 31 (1981–1982) adalah serial animasi produksi Prancis-Jepang berlatar waktu masa depan pada abad ke-31.[220]
- The Odyssey (1987) adalah sebuah film direct-to-video animasi produksi Burbank Films Australia yang memadatkan kisah Odisseia ke dalam sebuah adaptasi berdurasi 55 menit yang ditujukan untuk anak-anak.[221]
- Nostos: The Return (1989) adalah film Italia mengenai kepulangan Odiseus. Disutradarai oleh Franco Piavoli, film ini mengandalkan penceritaan visual dan memberikan penekanan yang kuat pada alam.[222]
- Ulysses' Gaze (1995), yang disutradarai oleh Theo Angelopoulos, memuat banyak unsur dari Odisseia yang ditempatkan dalam latar belakang Perang Balkan terkini maupun perang-perang Balkan sebelumnya.[223]
- The Odyssey (1997) adalah sebuah miniseri televisi yang disutradarai oleh Andrei Konchalovsky dan dibintangi oleh Armand Assante sebagai Odiseus dan Greta Scacchi sebagai Penelope.[224]
- O Brother, Where Art Thou? (2000) adalah sebuah film drama komedi kriminal yang ditulis, diproduseri, disunting bersama, dan disutradarai oleh Coen bersaudara. Film ini diadaptasi secara sangat longgar dari puisi karya Homeros.[225]
- The Return (2024) adalah film yang diadaptasi dari Buku XIII hingga XXIV, disutradarai oleh Uberto Pasolini serta dibintangi oleh Ralph Fiennes sebagai Odiseus dan Juliette Binoche sebagai Penelope.[226]
- The Odyssey (2026) adalah film yang ditulis dan disutradarai oleh Christopher Nolan, dibintangi oleh Matt Damon sebagai Odiseus dan Anne Hathaway sebagai Penelope.[227][228]
Opera dan musik
[sunting | sunting sumber]- Il ritorno d'Ulisse in patria, yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1640, merupakan opera karya Claudio Monteverdi yang didasarkan pada paruh kedua Odisseia karya Homeros.[229]
- Rolf Riehm menggubah sebuah opera berdasarkan mitos tersebut, Sirenen – Bilder des Begehrens und des Vernichtens (Sirens: Images of Desire and Destruction), yang dipentaskan perdana di Oper Frankfurt pada tahun 2014.[230]
- Simfoni kedua untuk grup musik konser karya Robert W. Smith, The Odyssey, mengisahkan empat peristiwa utama dalam Odisseia melalui empat bagiannya: "The Iliad", "The Winds of Poseidon", "The Isle of Calypso", dan "Ithaca".[231]
- Balet Ulysse karya Jean-Claude Gallota[232] didasarkan pada Odisseia karya Homeros maupun novel Ulysses karya James Joyce.[233]
- Karya musikal yang seluruh dialognya dinyanyikan, Epic: The Musical, karya Jorge Rivera-Herrans, mengisahkan Odisseia melalui sembilan "saga", dimulai dari berakhirnya Perang Troya hingga kepulangan Odiseus ke Itaka.[234][235]
Sains
[sunting | sunting sumber]- Psikiater Jonathan Shay menulis dua buku, Achilles in Vietnam: Combat Trauma and the Undoing of Character (1994)[236] dan Odysseus in America: Combat Trauma and the Trials of Homecoming (2002),[237] yang mengaitkan Ilias dan Odisseia dengan gangguan stres pascatrauma dan luka moral sebagaimana terlihat dalam riwayat rehabilitasi para veteran perang yang menjadi pasiennya.
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Sebuah cawan tanah liat yang ditemukan di Ischia, Italia, memuat inskripsi berbunyi "Cawan Nestor, baik untuk minum darinya".[7]. Beberapa cendekiawan, seperti Calvert Watkins, mengaitkan cawan tersebut dengan penggambaran cawan emas Raja Nestor dalam Ilias.[8] Jika cawan tersebut memang merupakan sebuah kiasan terhadap Ilias, maka puisi itu telah disusun paling lambat pada sekitar tahun 700–750 SM.[3]
- ↑ Papiri yang memuat fragmen-fragmen Odisseia telah ditemukan di Mesir dan tetap terlestarikan berkat iklim Mesir yang kering. Papiri tersebut bertarikh abad ke-3 SM dan menunjukkan sejumlah perbedaan dibandingkan dengan naskah-naskah abad pertengahan.[10]
- ↑ Karakteristik tersebut meliputi penggunaan epitet yang menyertai nomina; pola adegan yang berulang, dan struktur kiastik.[13]
- ↑ Menyebut bagian-bagian ini sebagai 'buku' merupakan anakronisme.[27]
- ↑ Alfabet Ionia memiliki 20 hingga 26 huruf selama periode Homerik.[29]
- ↑ Pengamatan ini dikenal sebagai "Hukum Monro", diambil dari nama David Monro.[39]
- ↑ Selama Perdebatan Kaum Kuno dan Kaum Modern, kelompok Modern menganggap simile Homeros yang panjang begitu tidak menarik sehingga mereka menjulukinya comparisons à longue queuë ("simile berekor panjang").[71]
- ↑ Kedua perpustakaan tersebut saling bersaing pada awal abad ke-2 SM. Perpustakaan Aleksandria mengalami eksodus para cendekiawan akibat perselisihan politik internal, sedangkan Perpustakaan Pergamon berada di bawah kekuasaan Republik Romawi pada 133 SM.[105]
- ↑ Prinsip penafsiran ini secara khusus diterapkan oleh Aristarkos dari Samotrakia.[114] Namun, apakah ungkapan yang kemudian digunakan oleh Porfirios, Hómēron ex Homḗrou saphēnízein ("menjelaskan Homeros melalui Homeros"—yakni, tidak mencari penjelasan dari sumber lain), juga berasal dari Aristarkos masih menjadi bahan perdebatan di kalangan para cendekiawan.[115][116][117]
- ↑ "Edisi kota" dikenal dengan berbagai sebutan, seperti ekdoseis kata poleis, apo tōn poleōn, atau politikai; sedangkan "edisi perorangan" disebut ekdoseis kat'andra.[121]
- ↑ Keempat edisi kota tersebut masing-masing dikenal dengan sebutan hē Aiolikē (atau hē Aiolis), hē Argolis, hē Kypria, dan hē Massaliōtikē.[123]
- ↑ Sepanjang zaman kuno, Homeros berkali-kali dijuluki sebagai "bapak retorika", termasuk oleh Telefos dari Pergamon.[128]
- ↑ Robert Browning menulis, "Mungkin terasa ganjil bagi kita sekarang bahwa anak-anak diajarkan membaca melalui puisi-puisi yang digubah dalam suatu ragam bahasa yang tidak pernah digunakan sebagai bahasa lisan oleh siapa pun, tetapi masyarakat Yunani bukanlah satu-satunya yang mendidik anak-anak dengan cara demikian."[112]
- ↑ Mary Ebbott menulis, "Sumber-sumber kuno menunjukkan bahwa para rapsodos mengikuti 'perlombaan musik' (mousikoi agōnes) dalam perayaan Panathena setidaknya sejak akhir abad ke-6 SM hingga akhir abad ke-4 SM."[134]
- ↑ Menurut Mary Ebbott, para rapsodos membawakan bagian-bagian tertentu dari Ilias dan Odisseia, yang lambat laun membuat masyarakat Athena menganggap bahwa hanya kedua puisi itulah yang merupakan karya Homeros.[134]
- ↑ Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa ketegangan keagamaan pada periode ini disebabkan oleh penyebaran Kekristenan karena Homeros semakin dipandang sebagai seorang pagan, meskipun pandangan tersebut belum ada konsensus di kalangan akademisi mengenai pandangan tersebut.[137]
- ↑ Satu-satunya karya yang masih bertahan dari seorang cendekiawan Bizantium anonim—yang diterbitkan dengan judul Homeric Epimerisms pada tahun 1983—kemungkinan berasal dari pertengahan abad ke-9.[142][143]
- ↑ Odisseia bukanlah satu-satunya karya yang dimuat dalam edisi tersebut. Edisi itu mencakup seluruh karya yang secara tradisional diatribusikan kepada Homeros, yakni Ilias, Batrachomyomakhia, dan ]]Himne Homeros]].[150] Menurut Maria Mavroudi, keputusan Demetrios untuk menghimpun seluruh karya yang dianggap sebagai karya Homeros dalam edisinya mencerminkan ketertarikan para cendekiawan Bizantium untuk menafsirkan karya-karya tersebut daripada memperdebatkan persoalan kepengarangannya.[139]
- ↑ Parry meninggal dalam usia 33 tahun setelah tertembak secara tidak sengaja di bagian dada.[161]
- ↑ Dalam salah satu suratnya, Petrarca menulis, "Homeros membisu bagiku, atau lebih tepatnya, akulah yang tuli terhadapnya. Meskipun demikian, aku tetap menikmati hanya dengan memandangnya, dan sering kali, sambil memeluknya dan menghela napas, aku berkata, 'Wahai manusia agung, betapa ingin aku mendengarkanmu.'" Petrarca sempat berusaha mempelajari bahasa Yunani, tetapi tidak berhasil.[170]
- ↑ Wilson berpendapat bahwa pilihan-pilihan tersebut telah memberi narasi Odisseia nuansa makna yang tidak terdapat dalam teks aslinya. Sebagai contoh, ia menunjukkan bahwa beberapa penerjemah menafsirkan ungkapan yang digunakan untuk menyebut para budak perempuan yang berhubungan seksual dengan para pelamar—hai (terj. har. 'para perempuan itu')—seolah-olah bermakna perempuan jalang atau pelacur.[183]
- ↑ Voss juga menerjemahkan sejumlah karya klasik lainnya, dan kemudian merevisi terjemahannya atas Odisseia, tetapi versi revisi tersebut tidak mendapat sambutan sebaik edisi sebelumnya.[184]
- ↑ Terjemahan Ilias karya Dacier mendapat sambutan yang baik dari kalangan kritikus; ia juga melengkapinya dengan ulasan historis dan linguistik .[187]
- ↑ Terjemahan Houdar de la Motte jauh lebih ringkas dan telah dimodernisasi. Pernyataannya bahwa terjemahannya lebih baik daripada karya Homeros membuat Dacier marah, sehingga ia menulis sanggahan setebal 600 halaman.[189]
- ↑ Dacier tidak menguasai bahasa Inggris sehingga, untuk membaca terjemahan Odisseia versi Pope, ia bergantung pada sebuah terjemahan yang berkualitas buruk. Dalam kata pengantar edisi baru terjemahannya atas Ilias, ia mengecam terjemahan tersebut. Pope mengagumi Dacier dan merasa terluka oleh kecaman itu, tetapi Dacier meninggal pada tahun 1720 sebelum ia sempat memberikan tanggapan.[188]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Cambridge Dictionary 2025.
- ↑ Ὀδύσσεια. Liddell, Henry George; Scott, Robert; A Greek–English Lexicon at the Perseus Project. Harper, Douglas. "odyssey". Online Etymology Dictionary.
- 1 2 3 4 5 Wilson 2018, hlm. 21.
- 1 2 3 Lamberton 2020, hlm. 411.
- 1 2 3 4 5 Wilson 2020, hlm. xiii.
- ↑ Wilson 2018, hlm. 23.
- ↑ Higgins 2019.
- ↑ Watkins 1976, hlm. 28.
- ↑ Pfeiffer 1968, hlm. 25.
- ↑ Daley 2018.
- 1 2 Pache 2020, hlm. xxvii.
- 1 2 Wilson 2020, hlm. xiv–xv.
- ↑ Dué & Marks 2020, hlm. 588.
- 1 2 3 Hall 2008, hlm. 20–21.
- ↑ Finkelberg 2003, hlm. 68.
- 1 2 Dué & Marks 2020, hlm. 585.
- ↑ Nagy 2020, hlm. 82.
- ↑ Templat:Herodotos
- 1 2 Nagy 2020, hlm. 81.
- 1 2 Nagy 2020, hlm. 92.
- ↑ Myrsiades & Pinsker 1976, hlm. 237.
- ↑ Foley 2002, hlm. 82.
- ↑ Ebbott 2020, hlm. 9–10.
- 1 2 Ebbott 2020, hlm. 10–11.
- ↑ Ebbott 2020, hlm. 12.
- ↑ Martin 2020, hlm. 38.
- 1 2 Muellner 2020, hlm. 24.
- ↑ González 2020, hlm. 140.
- ↑ Taplin 1995, hlm. 285.
- ↑ Lattimore 1951, hlm. 14.
- ↑ Frame 2009, hlm. 561.
- ↑ Olson 1995, hlm. 228 n.1; 237–238.
- ↑ Jensen 1999, hlm. 5–90.
- ↑ Janko 2000.
- ↑ Jensen 1999, hlm. 5–34.
- ↑ Frame 2009, hlm. 561–562.
- ↑ Marks 2020, hlm. 49–50.
- ↑ Monro 1901, hlm. 325.
- ↑ Marks 2020, hlm. 50.
- 1 2 Marks 2020, hlm. 51.
- ↑ West 1997, hlm. 403.
- ↑ West 1997, hlm. 405.
- ↑ West 1997, hlm. 406.
- ↑ West 1997, hlm. 410.
- ↑ West 1997, hlm. 417.
- 1 2 Anderson 2000, hlm. 127.
- ↑ Mayor 2000, hlm. 6–7.
- ↑ Anderson 2000, hlm. 123.
- ↑ Stanford 1968, hlm. 8.
- 1 2 Fox 2008.
- 1 2 Strabo, Geographika, 1.2.15, dikutip dalam Finley 1976, hlm. 33
- ↑ Zazzera 2019.
- ↑ Jones 1996, hlm. xi.
- 1 2 Pache et al. 2020, hlm. 275.
- ↑ "The Departure from Troy and the Raid on the Cicones: the end of all 'hard' work (Book IX)". Greek Mythology Interpretation (dalam bahasa Inggris (Britania)). 25 September 2020. Diakses tanggal 18 Juli 2026.
- ↑ Christopoulos, Ménélaos (8 Agustus 2019). "Formes de violence dans le monde d'Ulysse". Dialogues d'histoire ancienne (dalam bahasa Prancis). 451 (1): 13–22. doi:10.3917/dha.451.0013. ISSN 0755-7256.
- ↑ Foley 2007, hlm. 19.
- ↑ Willcock 2007, hlm. 32.
- ↑ Most 1989, hlm. 15–16.
- ↑ Cairns 2014, hlm. 231.
- ↑ Carne-Ross 1998, hlm. lxi.
- ↑ Jones 1996, hlm. 48.
- ↑ Wilson 2020, hlm. lv.
- ↑ Myrsiades 2019, hlm. 3.
- ↑ Haslam 1976, hlm. 203.
- 1 2 Bremer, de Jong & Kalff 1987, hlm. vii.
- ↑ Beck 2020, hlm. 203.
- ↑ de Jong 2001, hlm. viii.
- ↑ Clarke 1967, hlm. 102.
- ↑ Wilson 2020, hlm. ix.
- ↑ Clarke 1981, hlm. 126.
- ↑ Karanika 2020, hlm. 201.
- ↑ de Jong 2001, hlm. xviii.
- ↑ de Jong 2001, hlm. 49.
- ↑ Hardwick 2025, hlm. 41–42.
- ↑ Karanika 2020, hlm. 202.
- ↑ Clarke 1967, hlm. 103.
- ↑ Bonifazi 2009, hlm. 481, 492.
- ↑ Hall 2008, hlm. 163.
- ↑ Bonifazi 2009, hlm. 481.
- ↑ Thornton 1970, hlm. 1–2.
- ↑ Thornton 1970, hlm. 1–15.
- ↑ Thornton 1970, hlm. 3–4.
- ↑ Thornton 1970, hlm. 7–9.
- 1 2 3 4 5 Thornton 1970, hlm. 16–37.
- ↑ Harper, Douglas. "Calypso". Online Etymology Dictionary.
- ↑ Lattimore 1975, 8.566.
- ↑ Lattimore 1975, 6.4–5.
- [[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|
halaman dibutuhkan ]]]_96-0" id="mwCpo">1 [[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|halaman dibutuhkan]] ]_96-1" id="mwCpw">2 [[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|halaman dibutuhkan]] ]_96-2" id="mwCp4">3 Reece 1993, hlm. [halaman dibutuhkan]. - 1 2 3 4 Thornton 1970, hlm. 38–46.
- ↑ Lattimore 1975, 17.415–444.
- ↑ Hainsworth 1972, hlm. 320–321.
- 1 2 3 Edwards 1992, hlm. 284–330.
- 1 2 3 4 5 Thornton 1970, hlm. 47–51.
- 1 2 3 4 5 6 7 Thornton 1970, hlm. 52–57.
- ↑ Lattimore 1975, 20.103–104.
- ↑ Lattimore 1975, 21.414.
- ↑ Kundmueller 2013, hlm. 7.
- ↑ Lattimore 1975, 2.143–145.
- ↑ Lattimore 1975, 15.155–159.
- ↑ Lattimore 1975, 19.136.
- ↑ Lattimore 1975, 20.240–243.
- ↑ Kim 2020, hlm. 417.
- ↑ Dué 2020, hlm. 6.
- 1 2 Kim 2020, hlm. 429.
- ↑ Marks 2020, hlm. 92.
- ↑ Wilson 2020, hlm. 315.
- 1 2 3 Wilson 2020, hlm. 326.
- ↑ Wilson 2020, hlm. lxii.
- ↑ Christensen 2020a, hlm. 126.
- 1 2 Clarke 1981, hlm. 62.
- 1 2 3 4 Browning 1992, hlm. 134.
- ↑ Lamberton 1989, hlm. 114.
- ↑ Nünlist 2015, hlm. 401.
- ↑ Pfeiffer 1968, hlm. 225–227.
- ↑ Montanari 1997, hlm. 279–281.
- ↑ Nünlist 2015, hlm. 385.
- ↑ Lamberton 1989, hlm. 108–109.
- ↑ Pfeiffer 1968, hlm. 226.
- ↑ Schironi 2020, hlm. 114.
- ↑ Kim 2020, hlm. 112.
- 1 2 3 4 Schironi 2020, hlm. 112.
- ↑ West 2001, hlm. 67 n. 67.
- 1 2 3 4 5 Lamberton 2010, hlm. 449–452.
- 1 2 3 4 5 Browning 1992, hlm. 134–148.
- ↑ Kim 2020, hlm. 411, 417.
- ↑ Kim 2020, hlm. 431.
- ↑ Lamberton 1989, hlm. 135–136.
- ↑ Lamberton 2020, hlm. 417.
- ↑ Pache et al. 2020, hlm. 417.
- ↑ Davison 1955, hlm. 7–8.
- ↑ Davison 1955, hlm. 9–10.
- ↑ Kim 2020, hlm. 420.
- 1 2 3 Ebbott 2020, hlm. 13.
- ↑ Fantuzzi & Tsagalis 2015a, hlm. 15.
- ↑ Suda, Trifiodoros
- ↑ Mavroudi 2020a, hlm. 445–446.
- ↑ Armstrong 2025, hlm. 6.
- 1 2 Mavroudi 2020a, hlm. 444.
- ↑ Browning 1992, hlm. 136–137.
- ↑ Mavroudi 2020a, hlm. 446.
- ↑ Dyck 1983, hlm. 7.
- ↑ Browning 1992, hlm. 137.
- ↑ Browning 1992, hlm. 138–139.
- 1 2 Browning 1992, hlm. 140.
- ↑ Mavroudi 2020a, hlm. 447.
- ↑ Stanford 1968, hlm. 254.
- ↑ Browning 1992, hlm. 135.
- ↑ Lamberton 1989, hlm. 112.
- ↑ Wolfe 2020, hlm. 491.
- 1 2 Clarke 1981, hlm. 122.
- 1 2 Clarke 1981, hlm. 123.
- ↑ Candler Hayes 2025, hlm. 165.
- ↑ Dué & Marks 2020, hlm. 585–586.
- ↑ Clarke 1981, hlm. 150.
- ↑ Clarke 1981, hlm. 154.
- ↑ Dué & Marks 2020, hlm. 587.
- ↑ Clarke 1981, hlm. 264.
- ↑ Thornton 1970, hlm. xi.
- ↑ Dué & Nagy 2020, hlm. 590.
- ↑ Wilson 2020, hlm. xv.
- ↑ Kenner 1971, hlm. 50.
- ↑ Hall 2008, hlm. 25.
- ↑ Ruskin 1869, hlm. 17.
- ↑ Haynes 2018.
- ↑ von Albrecht 1997, hlm. 113–114.
- ↑ Stanford 1968, hlm. 268.
- ↑ von Albrecht 1997, hlm. 114–115.
- ↑ von Albrecht 1997, hlm. 117.
- 1 2 Clarke 1981, hlm. 56–57.
- ↑ Browning 1992, hlm. 147.
- 1 2 Wolfe 2020, hlm. 495.
- 1 2 Wolfe 2020, hlm. 496.
- 1 2 Wolfe 2020, hlm. 497.
- 1 2 Candler Hayes 2025, hlm. 164.
- ↑ Lawton 2020, hlm. 598.
- ↑ Clarke 1981, hlm. 57.
- ↑ Fay 1952, hlm. 104.
- ↑ Brammall 2018.
- ↑ Grafton, Most & Settis 2010, hlm. 331.
- ↑ Wilson Guardian 2017.
- ↑ Wilson 2018, hlm. 86.
- ↑ Wilson 2017.
- 1 2 Curran 1996, hlm. 173–175.
- ↑ Steiner 1975, hlm. 266.
- ↑ Steiner 1975, hlm. 259.
- ↑ Candler Hayes 2025, hlm. 168.
- 1 2 Candler Hayes 2025, hlm. 176.
- ↑ Candler Hayes 2025, hlm. 164–165.
- ↑ Armstrong 2018, hlm. 225.
- ↑ Baines 2000, hlm. 25.
- ↑ Gray 1984, hlm. 108.
- ↑ Barnard 2003, hlm. 509.
- ↑ Damrosch 1987, hlm. 59.
- ↑ Cooper 2007, hlm. 196.
- ↑ UOM 2012.
- ↑ Zhang 2021, hlm. 353–354.
- [[[Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan|
halaman dibutuhkan ]]]_223-0" rel="mw:referencedBy" id="mwDR0">↑ Mayor 2000, hlm. [halaman dibutuhkan]. - ↑ "Sinbad the Sailor". Encyclopedia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Juli 2019. Diakses tanggal 12 November 2024.
- ↑ Burton, Richard (1885). The Book of the Thousand Nights and a Night Volume VI (PDF). The Burton Club; Oxford. hlm. 40.
- ↑ Hall 2008, hlm. 46.
- ↑ Cartwright, Mark (15 Maret 2017). "Odyssey". World History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juli 2017. Diakses tanggal 29 Juli 2022.
- ↑ North 2017.
- ↑ Stableford 2004, hlm. 5.
- ↑ Gorman 1939, hlm. 45.
- ↑ Jaurretche 2005, hlm. 29.
- ↑ Drabble, Margaret, ed. (1995). "Ulysses". The Oxford Companion to English Literature. Oxford: Oxford University Press. hlm. 1023. ISBN 978-0-19-866221-1.
- ↑ Ames 2005, hlm. 17.
- ↑ Williams, Linda R., ed. (1992). The Bloomsbury Guides to English Literature: The Twentieth Century. London: Bloomsbury. hlm. 108–109.
- ↑ Larsen, H. Stephen and Robin. Joseph Campbell: A Fire in the Mind, Inner Traditions, 2002.
- ↑ "Cinema: In the Footsteps of Ulysses", Time, 18 Mei 1980.
- ↑ Beard, Mary (28 Oktober 2005). "Review: Helen of Troy | Weight | The Penelopiad | Songs on Bronze". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2016.
- 1 2 "Margaret Atwood: A personal odyssey and how she rewrote Homer". The Independent. 28 Oktober 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juli 2020.
- ↑ "Circe by Madeline Miller review – myth, magic and single motherhood". The Guardian (dalam bahasa Inggris). 21 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Juni 2020.
- ↑ "'Circe' Gets A New Motivation". NPR.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2018.
- ↑ Messud, Claire (28 Mei 2018). "December's Book Club Pick: Turning Circe Into a Good Witch (Published 2018)". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 September 2020.
- ↑ Luzzi, Joseph (2020). Italian Cinema from the Silent Screen to the Digital Image. Bloomsbury Publishing. ISBN 9781441195616.
- ↑ Wilson, Wendy S.; Herman, Gerald H. (2003). World History On The Screen: Film And Video Resources:grade 10–12. Walch Publishing. hlm. 3. ISBN 978-0-8251-4615-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Januari 2020.
- ↑ Garcia Morcillo, Marta; Hanesworth, Pauline; Lapeña Marchena, Óscar (11 Februari 2015). Imagining Ancient Cities in Film: From Babylon to Cinecittà. Routledge. hlm. 139. ISBN 978-1-135-01317-2.
- ↑ "Ulysses 31 [Ulysse 31]". Our Mythical Childhood Survey. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juni 2024. Diakses tanggal 8 Juni 2024.
- ↑ Blanshard, Alastair J. L. (2009). Hellas on Screen: Cinematic Receptions of Ancient History, Literature and Myth. London: Bristol Classical Press. hlm. 45. ISBN 9780715637746. Diakses tanggal 25 Juli 2026.
- ↑ Lapeña Marchena, Óscar (2018). "Ulysses in the Cinema: The Example of Nostos, il ritorno (Franco Piavoli, Italy, 1990)". Dalam Rovira Guardiola, Rosario (ed.). The Ancient Mediterranean Sea in Modern Visual and Performing Arts: Sailing in Troubled Waters. Imagines – Classical Receptions in the Visual and Performing Arts. London: Bloomsbury Academic. hlm. 98. ISBN 978-1-4742-9859-9.
- ↑ Grafton, Most & Settis 2010, hlm. 653.
- ↑ Roman 2005, hlm. 267.
- ↑ Siegel, Janice (2007). "The Coens' O Brother, Where Art Thou? and Homer's Odyssey". Mouseion: Journal of the Classical Association of Canada (dalam bahasa Inggris). 7 (3): 213–245. doi:10.1353/mou.0.0029. ISSN 1913-5416. S2CID 163006295. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2020.
- ↑ Ravindran, Manori (28 April 2023). "'English Patient' Stars Juliette Binoche, Ralph Fiennes Will Reunite in 'The Return,' a Gritty Take on 'The Odyssey'". Variety. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2023. Diakses tanggal 3 Juni 2023.
- ↑ Grobar, Matt (23 Desember 2024). "Christopher Nolan's Next Film Is An Adaptation Of Homer's 'The Odyssey,' Universal Reveals". Deadline Hollywood. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Desember 2024. Diakses tanggal 24 Desember 2024.
- ↑ "The Odyssey cast: Full list of confirmed actors | Radio Times". www.radiotimes.com (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 19 Juli 2026.
- ↑ "Monteverdi's 'The Return of Ulysses'". NPR. 23 Maret 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Februari 2017.
- ↑ Griffel, Margaret Ross (2018). "Sirenen". Operas in German: A Dictionary. Rowman & Littlefield. hlm. 448. ISBN 978-1-4422-4797-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Agustus 2023. Diakses tanggal 3 Oktober 2020.
- ↑ "The Iliad (from The Odyssey (Symphony No. 2))". www.alfred.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Agustus 2020.
- ↑ Entrée Ulysse – Diarsipkan 25 November 2023 di Wayback Machine., Philippe Le Moal, Dictionnaire de la danse (dalam bahasa Prancis), éditions Larousse, 1999 ISBN 2035113180, hlm. 507.
- ↑ Esiste uno stile Gallotta? – Diarsipkan 1 April 2007 di Wayback Machine., oleh Marinella Guatterini pada tahun 1994 dalam situs web Romaeuropa (dalam bahasa Italia).
- ↑ Rabinowitz, Chloe (4 Januari 2023). "Epic: The Troy Saga Passes 3 Million Streams in First Week of Release". BroadwayWorld (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 November 2024. Diakses tanggal 30 November 2024.
- ↑ McKinnon, Madeline. "Music Review: 'Epic: The Musical'". The Spectrum (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2024. Diakses tanggal 30 November 2024.
- ↑ Shay, Jonathan. Achilles in Vietnam: Combat Trauma and the Undoing of Character. Scribner, 1994. ISBN 978-0-684-81321-9.
- ↑ Shay, Jonathan. Odysseus in America: Combat Trauma and the Trials of Homecoming. New York: Scribner, 2002. ISBN 978-0-7432-1157-4.
Bibliografi
[sunting | sunting sumber]Buku
[sunting | sunting sumber]- Anderson, Graham (2000). Fairytale in the Ancient World. Routledge. ISBN 978-0-415-23702-4.
- Armstrong, Richard H.; Lianeri, Alexandra, ed. (2025). A Companion to the Translation of Classical Epic (Edisi 1st). Wiley. ISBN 9781119094265.
- Armstrong, Richard H. Introduction. Dalam Armstrong & Lianeri (2025).
- Candler Hayes, Julie. "Anne Dacier's Homer: Epic Force". Dalam Armstrong & Lianeri (2025).
- Hardwick, Lorna. "Between Translation and Reception". Dalam Armstrong & Lianeri (2025).
- Baines, Paul (2000). The Complete Critical Guide to Alexander Pope. Routledge. hlm. 25. ISBN 0-203-16993-X. OCLC 48139753.
- Barnard, John (2003). Alexander Pope: The Critical Heritage. Hoboken: Taylor and Francis. ISBN 978-0-203-19423-2.
- Bremer, Jan Maarten; de Jong, Irene; Kalff, Jurriaan (1987). Homer: Beyond Oral Poetry. B.R. Grüner. ISBN 978-90-6032-215-4.
- Cairns, Douglas (2014). Defining Greek Narrative. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-8010-8.
- Carne-Ross, D. S. (1998). "The Poem of Odysseus". The Odyssey. Diterjemahkan oleh Fitzgerald, Robert. Farrar, Straus and Giroux. ISBN 978-0-374-52574-3.
- Clarke, Howard W. (1967). "Appendix II: Translators and Translations". The Art of the Odyssey.
- Clarke, Howard W. (1981). Homer's Readers: A Historical Introduction to the Iliad and the Odyssey. University of Delaware Press.
- Damrosch, Leopold (1987). The imaginative world of Alexander Pope. University of California Press. ISBN 978-0-520-05975-7.
- de Jong, Irene J. F. (2001). A Narratological Commentary on the Odyssey. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-46478-9.
- Dyck, Andrew R., ed. (1983). Epimerismi Homerici. De Gruyter. ISBN 978-3-11-006556-5.
- Fantuzzi, Marco; Tsagalis, Christos, ed. (2015). The Greek Epic Cycle and its Ancient Reception: A Companion. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-01259-2.
- Fantuzzi, Marco; Tsagalis, Christos (2015a). ""Introduction"". Dalam Fantuzzi & Tsagalis (2015).
- Finley, Moses (1976). The World of Odysseus (Edisi revised). Viking Compass.
- Foley, John M. (2002). How to Read an Oral Poem. University of Illinois Press. ISBN 978-0-252-07082-2.
- Fox, Robin Lane (2008). "Finding Neverland". Travelling Heroes in the Epic Age of Homer. Alfred A. Knopf.
- Frame, Douglas (2009). Hippota Nestor. Center for Hellenic Studies. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 September 2025. Diakses tanggal 31 Juli 2025.
- Gorman, Herbert Sherman (1939). James Joyce. Rinehart. OCLC 1035888158.
- Grafton, Anthony; Most, Glenn W.; Settis, Salvatore (2010). The Classical Tradition. The Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 978-0-674-03572-0.
- Hall, Edith (2008). The Return of Ulysses: A Cultural History of Homer's Odyssey. I. B. Tauris & Co. ISBN 978-1-84511-575-3.
Kedua epos Homeros tersebut menjadi landasan pendidikan bagi setiap orang dalam masyarakat Mediterania kuno setidaknya sejak abad ke-7 SM; kurikulum tersebut kemudian diadopsi oleh para humanis Barat.
- Jaurretche, Colleen (2005). Beckett, Joyce and the art of the negative. European Joyce studies. Vol. 16. Rodopi. ISBN 978-90-420-1617-0.
- Jones, Peter V. (1996). Homer's Odyssey: A Companion to the English Translation of Richmond Lattimore. Classical studies series (Edisi Repr). Bristol Classical Press. ISBN 978-1-85399-038-0.
- Kenner, Hugh (1971). The Pound Era. University of California Press.
- Lamberton, Robert (1989). Homer the Theologian: Neoplatonist Allegorical Reading and the Growth of the Epic Tradition. University of California Press. ISBN 978-0-520-06622-9.
- Lamberton, Robert; Keaney, John J., ed. (1992). Homer's Ancient Readers: The Hermeneutics of Greek Epic's Earliest Exegetes. Princeton University Press. ISBN 978-0-6916-5627-4.
- Browning, Robert. "The Byzantines and Homer". Dalam Lamberton & Keaney (1992).
- Lamberton, Robert (2010). "Homer". Dalam Grafton, Anthony; Most, Glenn W.; Settis, Salvatore (ed.). The Classical Tradition. The Belknap Press of Harvard University Press. ISBN 978-0-674-03572-0.
- Lattimore, Richmond (1951). The Iliad of Homer. The University of Chicago Press.
- Lattimore, Richmond (1975). The Odyssey of Homer. Harper & Row.
- Mayor, Adrienne (2000). The First Fossil Hunters: Paleontology in Greek and Roman Times. Princeton University Press.
- Monro, David (1901). Homer's Odyssey: Books XIII XXIV. Clarendon Press.
- Montanari, Franco (1997). "The Fragments of Hellenistic Scholarship". Dalam Most, Glenn W. (ed.). Collecting Fragments / Fragmente sammeln. Aporemata. Vol. 1. Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht. hlm. 273–288. ISBN 978-3-525-25900-9.
- Myrsiades, Kostas (2019). Reading Homer's Odyssey. Rutgers University Press. ISBN 978-1-68448-136-1.
- Olson, S. Douglas (1995). "Book-Divisions in the Odyssey". Blood and Iron: Stories and Storytelling in Homer's Odyssey. Mnemosyne Supplements. Vol. 148. Leiden / New York / Köln: E. J. Brill. hlm. 228–239. doi:10.1163/9789004329539_013. ISBN 978-90-04-10251-4. ISSN 0169-8958.
- Pache, Corinne Ondine; Dué, Casey; Lupack, Susan; Lamberton, Robert, ed. (2020). The Cambridge Guide to Homer (Edisi 1). Cambridge University Press. doi:10.1017/9781139225649. ISBN 978-1-139-22564-9.
- Pache, Corinne Ondine. "General Introduction". Dalam Pache et al. (2020).
- Dué, Casey. "Introduction (Part I)". Dalam Pache et al. (2020).
- Martin, Richard P. "Homer in a World of Song". Dalam Pache et al. (2020).
- Ebbott, Mary. "Homeric Epic in Performance". Dalam Pache et al. (2020).
- Muellner, Leonard. "Homeric Poetics". Dalam Pache et al. (2020).
- Marks, Jim. "Epic Traditions". Dalam Pache et al. (2020).
- Nagy, Gregory. "From Song to Text". Dalam Pache et al. (2020).
- González, José M. "Homer and the Alphabet". Dalam Pache et al. (2020).
- Lamberton, Robert. "Introduction (Part III)". Dalam Pache et al. (2020).
- Schironi, Francesca. "Early Editions". Dalam Pache et al. (2020).
- Christensen, Joel P. (2020a). "Gods and Goddesses". Dalam Pache et al. (2020).
- Karanika, Andromache. "Similes". Dalam Pache et al. (2020).
- Beck, Deborah. "Speech". Dalam Pache et al. (2020).
- Kim, Lawrence. "Homer in Antiquity". Dalam Pache et al. (2020).
- Mavroudi, Maria (2020a). "Homer in Greece from the End of Antiquity: The Byzantine Reception of Homer and His Export to Other Cultures". Dalam Pache et al. (2020).
- Wolfe, Jessica. "Homer in Renaissance Europe (1488–1649)". Dalam Pache et al. (2020).
- Dué, Casey; Nagy, Gregory. "Milman Parry". Dalam Pache et al. (2020).
- Dué, Casey; Marks, Jim. "Homeric Question". Dalam Pache et al. (2020).
- Lawton, David. "Shakespeare and Homer". Dalam Pache et al. (2020).
- Pfeiffer, Rudolf (1968). History of Classical Scholarship: From the Beginnings to the End of the Hellenistic Age. Clarendon Press. ISBN 978-0-19-814342-0.
- Reece, Steve (1993). The Stranger's Welcome: Oral Theory and the Aesthetics of the Homeric Hospitality Scene. University of Michigan Press.
- Roman, James W. (2005). From Daytime to Primetime: The History of American Television Programs. Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-313-31972-3.
- Ruskin, John (1869). The Mystery of Life and its Arts. New York: John Wiley.
- Stableford, Brian (2004) [1976]. "The Emergence of Science Fiction, 1516–1914". Dalam Barron, Neil (ed.). Anatomy of Wonder: A Critical Guide to Science Fiction (Edisi ke-5). Libraries Unlimited. ISBN 978-1-59158-171-0.
- Stanford, W. B. (1968). The Ulysses Theme: A Study in the Adaptability of the Traditional Hero (Edisi 2nd). University of Michigan Press.
- Steiner, George (1975). After Babel: Aspects of Language and Translation. Oxford University Press.
- Taplin, Oliver (1995). Homeric Soundings: The Shaping of the Iliad (Edisi Revisi). Clarendon Press. ISBN 978-0-19-815014-5.
- Thornton, Agathe (1970). People and Themes in Homer's Odyssey. Methuen.
- von Albrecht, Michael (1997). A History of Roman Literature. Brill. ISBN 978-90-04-10711-3.
- West, Martin L. (1997). The East Face of Helicon: West Asiatic Elements in Greek Poetry and Myth. Clarendon Press.
- West, Martin L. (2001). Studies in the Text and Transmission of the Iliad. Munich / Leipzig: K. G. Saur. doi:10.1515/9783110963120. ISBN 978-3-598-73005-4.
- Willcock, Malcolm L. (2007). A Companion to The Iliad: Based on the Translation by Richard Lattimore. Phoenix Books. ISBN 978-0-226-89855-1.
- Wilson, Emily (2018). "Introduction: When Was The Odyssey Composed?". The Odyssey. W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-08905-9.
- Wilson, Emily (2020). The Odyssey: A Norton Critical Edition. W. W. Norton and Company. ISBN 9780393655063.
Jurnal, berita, dan situs web
[sunting | sunting sumber]- Ames, Keri Elizabeth (2005). "Joyce's Aesthetic of the Double Negative and His Encounters with Homer's "Odyssey"". European Joyce Studies. 16: 15–48. ISSN 0923-9855. JSTOR 44871207. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2021. Diakses tanggal 16 Oktober 2020.
- Armstrong, Richard H. (2018). "Review of Homer: The Odyssey". Museum Helveticum. 75 (2): 225–226. ISSN 0027-4054. JSTOR 26831950. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2025. Diakses tanggal 30 Juli 2025.
- "Homer Odyssey: Oldest extract discovered on clay tablet". BBC News. 10 Juli 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 September 2020.
- Bonifazi, Anna (Winter 2009). "Inquiring into Nostos and Its Cognates". The American Journal of Philology. 130 (4): 481–510. ISSN 0002-9475. JSTOR 20616206.
- Brammall, Sheldon (1 Juli 2018). "Review: George Chapman: Homer's Iliad". Translation and Literature. 27 (2). doi:10.3366/tal.2018.0339. ISSN 0968-1361. S2CID 165293864.
- "Odyssey". Cambridge Advanced Learner's Dictionary. Cambridge University Press. 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2021.
- Cooper, David L. (2007). "Vasilii Zhukovskii as a Translator and the Protean Russian Nation". The Russian Review. 66 (2): 185–203. doi:10.1111/j.1467-9434.2007.00437.x. ISSN 0036-0341. JSTOR 20620532. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 September 2025. Diakses tanggal 30 Juli 2025.
- Curran, Jane V. (1996). "Wieland's Revival of Horace". International Journal of the Classical Tradition. 3 (2): 171–184. doi:10.1007/BF02677914. ISSN 1073-0508. JSTOR 30222268.
- Daley, Jason (11 Juli 2018). "Oldest Greek Fragment of Homer Discovered on Clay Tablet". Smithsonian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Januari 2019. Diakses tanggal 29 Juli 2022.
- Davison, John A. (1955). "Peisistratus and Homer". Transactions and Proceedings of the American Philological Association. 86: 1–21. doi:10.2307/283605. ISSN 0065-9711. JSTOR 283605.
- Edwards, Mark W. (1992). "Homer and the Oral Tradition". Oral Tradition. 7 (2): 284–330.
- Fay, H. C. (1952). "George Chapman's Translation of Homer's 'iliad'". Greece & Rome. 21 (63): 104–111. doi:10.1017/S0017383500011578. ISSN 0017-3835. JSTOR 640882. S2CID 161366016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Desember 2022. Diakses tanggal 31 Desember 2022.
- Finkelberg, Margalit (2003). "Neoanalysis and Oral Tradition in Homeric Studies". Oral Tradition. 18 (1): 68–69. doi:10.1353/ort.2004.0014. hdl:10355/64890. ISSN 1542-4308.
- Foley, John Miles (Spring 2007). ""Reading" Homer through Oral Tradition". College Literature. 34 (2): 1–28. ISSN 0093-3139. JSTOR 25115419.
- Gray, James (1984). ""Postscript to the "Odyssey"": Pope's Reluctant Debt to Milton". Milton Quarterly. 18 (4): 105–116. doi:10.1111/j.1094-348X.1984.tb00295.x. ISSN 0026-4326. JSTOR 24464409. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2025. Diakses tanggal 30 Juli 2025.
- Hainsworth, J. B. (December 1972). "The Odyssey – Agathe Thornton: People and Themes in Homer's Odyssey". The Classical Review. 22 (3): 320–321. doi:10.1017/s0009840x00996720. ISSN 0009-840X. S2CID 163047986.
- Haslam, M. W. (1976). "Homeric Words and Homeric Metre: Two Doublets Examined (λείβω/εϊβω, γαΐα/αία)". Glotta. 54 (3/4): 201–211. ISSN 0017-1298. JSTOR 40266365.
- Haynes, Natalie (22 Mei 2018). "The Greatest Tale Ever Told?". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juni 2020.
- Higgins, Charlotte (13 November 2019). "From Carnage to a Camp Beauty Contest: The Endless Allure of Troy". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Januari 2020.
- Janko, Richard (2000). "Review: 'Dividing Homer: When and How were the Iliad and the Odyssey divided into songs?'". Bryn Mawr Classical Review. ISSN 1055-7660. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Juni 2025. Diakses tanggal 31 Juli 2025.
- Jensen, Minne Skafte (1999). "Dividing Homer: When and How were the Iliad and the Odyssey divided into songs?". Symbolae Osloenses. 74.
- Kundmueller, Michelle (2013). "Following Odysseus Home: an Exploration of the Politics of Honor and Family in the Iliad, Odyssey, and Plato's Republic". American Political Science: 1–39. SSRN 2301247.
- Liney, Nicolas (6 Juni 2020). "The Last Words of Milman Parry". The Oxonian Review. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Juni 2020.
- Most, Glenn W. (1989). "The Structure and Function of Odysseus' Apologoi". Transactions of the American Philological Association. 119: 15–30. doi:10.2307/284257. ISSN 0360-5949. JSTOR 284257. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 September 2025. Diakses tanggal 20 Februari 2025.
- Myrsiades, Kostas; Pinsker, Sanford (1976). "A Bibliographical Guide to Teaching the Homeric Epics in College Courses". College Literature. 3 (3): 237–259. ISSN 0093-3139. JSTOR 25111144. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Desember 2022. Diakses tanggal 31 Desember 2022.
- North, Anna (20 November 2017). "Historically, men translated the Odyssey. Here's what happened when a woman took the job". Vox. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Juni 2020. Diakses tanggal 29 Juli 2022.
- Nünlist, René (2015). "What does Ὅμηρον ἐξ Ὁμήρου σαφηνίζειν actually mean?". Hermes. 143 (4): 385–403. doi:10.25162/hermes-2015-0026. ISSN 0018-0777. JSTOR 43652974.
- pierrer (30 September 2012). "The Wanderings of a Translation: From Greek to German to Russian". Translation at Michigan. University of Michigan. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2025. Diakses tanggal 30 Juli 2025.
- Tagaris, Karolina (10 July 2018). Heavens, Andrew (ed.). "'Oldest known extract' of Homer's Odyssey discovered in Greece". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Maret 2019.
- Watkins, Calvert (1976). "Observations on the 'Nestor's Cup' Inscription". Harvard Studies in Classical Philology. 80: 25–40. doi:10.2307/311231. ISSN 0073-0688. JSTOR 311231.
- Wilson, Emily (7 July 2017). "Found in Translation: How Women are Making the Classics Their Own". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juli 2020.
- Wilson, Emily (8 Desember 2017). "A Translator's Reckoning With the Women of The Odyssey". The New Yorker. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2020. Diakses tanggal 29 Juli 2022.
- Zazzera, Elizabeth Della (27 Februari 2019). "The Geography of the Odyssey". Lapham's Quarterly. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2020. Diakses tanggal 29 Juli 2022.
- Zhang, Wei (2021). "Reading Homer in Contemporary China (From the 1980s Until Today)". International Journal of the Classical Tradition. 28 (3): 353–379. doi:10.1007/s12138-020-00558-z. ISSN 1073-0508. JSTOR 48698763. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 September 2025. Diakses tanggal 31 Juli 2025.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]| Sumber pustaka mengenai The Odyssey |
- Austin, N. 1975. Archery at the Dark of the Moon: Poetic Problems in Homer's Odyssey. Berkeley: University of California Press.
- Butler, Samuel (1922). The Authoress of the Odyssey by Samuel Butler; Diarsipkan 4 Desember 2024 di Wayback Machine..
- Chae, Yung In (17 November 2017). "Women Who Weave: Reading Emily Wilson's Translation of the Odyssey with Margaret Atwood's The Penelopiad". Eidolon.
- Clayton, B. 2004. A Penelopean Poetics: Reweaving the Feminine in Homer's Odyssey. Lanham, Maryland: Lexington Books.
- Clayton, B. 2011. "Polyphemus and Odysseus in the Nursery: Mother's Milk in the Cyclopeia". Arethusa 44(3): 255–77.
- Bakker, E. J. 2013. The Meaning of Meat and the Structure of the Odyssey. Cambridge, England: Cambridge University Press.
- Barnouw, J. 2004. Odysseus, Hero of Practical Intelligence. Deliberation and Signs in Homer's Odyssey. Lanham, Maryland: University Press of America.
- Dougherty, C. 2001. The Raft of Odysseus: The Ethnographic Imagination of Homer's Odyssey. New York: Oxford University Press.
- Fenik, B. 1974. Studies in the Odyssey. Hermes: Einzelschriften 30. Wiesbaden, West Germany: F. Steiner.
- Griffin, J. 1987. Homer: The Odyssey. Landmarks in World Literature. Cambridge, England: Cambridge University Press.
- Li, Sher-shiueh (4 Mei 2014). "'Translating' Homer and His Epics in Late Imperial China: Christian Missionaries' Perspectives". Asia Pacific Translation and Intercultural Studies. 1 (2): 83–106. doi:10.1080/23306343.2014.883750. ISSN 2330-6343.
- Louden, B. 1999. The Odyssey: Structure, Narration and Meaning. Baltimore: Johns Hopkins University Press.
- Louden, B. 2011. Homer's Odyssey and the Near East. Cambridge: Cambridge University Press.
- Müller, W. G. 2015. "From Homer's Odyssey to Joyce's Ulysses: Theory and Practice of an Ethical Narratology"; Diarsipkan 12 Desember 2025 di Wayback Machine.. Arcadia 50(1):9–36.
- Perpinyà, Núria. 2008. Las criptas de la crítica. Veinte lecturas de la Odisea [Ruang-Ruang Tersembunyi Kritik: Dua Puluh Penafsiran terhadap 'Odisseia'] (dalam bahasa Spanyol). Madrid: Gredos. Lay summary; Diarsipkan 18 Juni 2020 di Wayback Machine. via El Cultural (dalam bahasa Spanyol).
- Reece, Steve. 2011. "Toward an Ethnopoetically Grounded Edition of Homer's Odyssey"; Diarsipkan 1 Januari 2020 di Wayback Machine.. Oral Tradition 26:299–326.
- Saïd, S. 2011 [1998]. Homer and the Odyssey. New York: Oxford University Press.
- Thurman, Judith (18 September 2023). "Mother Tongue: Emily Wilson Makes Homer Modern", The New Yorker. hlm. 46–53. Biografi Emily Wilson serta pemaparan mengenai teori dan praktik penerjemahannya. "'Sebagai seorang penerjemah, saya bertekad menjadikan keseluruhan pengalaman manusia yang terkandung dalam puisi-puisi tersebut dapat diakses oleh semua orang,' ujar Wilson." (hlm. 47)
- Wilson, Emily (13 Desember 2023). "First Woman to Translate Homer's Odyssey Into English: How Modern Bias Is Projected Onto Antiquity". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juli 2025. Diakses tanggal 11 Mei 2026.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]Odisseia dalam bahasa Yunani Kuno
[sunting | sunting sumber]- The Odyssey (dalam bahasa Yunani Kuno) dalam Perseus Project
- Odyssey: ditampilkan teks dalam bahasa Yunani dan terjemahannya oleh Butler, disertai kosakata, catatan, dan analisis bentuk-bentuk tata bahasa yang sulit
Terjemahan dalam bahasa Inggris
[sunting | sunting sumber]Sumber-sumber lainnya
[sunting | sunting sumber]
Buku audio domain publik The Odyssey di LibriVox- BBC audio file—In Our Time, BBC Radio 4 [program diskusi, durasi 45 menit]
- The Odyssey Comix—Penuturan kembali secara terperinci beserta penjelasan mengenai Odisseia karya Homeros dalam format komik strip oleh Greek Myth Comix
- The Odyssey—Teks beranotasi dan analisis yang disusun sesuai dengan Common Core Standards
- "Homer's Odyssey: A Commentary" oleh Denton Jaques Snider dalam Project Gutenberg