Informasi hiburan
Informasi hiburan atau embaran hiburan (bahasa Inggris: infotainment; lakuran dari information yang berarti "informasi, embaran", dan entertainment yang berarti "hiburan")[1] adalah sejenis media, biasanya televisi atau daring, yang menyediakan gabungan informasi dan hiburan.[2][3] Istilah ini mungkin dipakai dengan nada meremehkan, apalagi untuk membandingkannya dengan berita serius. [4][5] Informasi hiburan juga disebut dengan berita ringan untuk membedakannya dengan kewartawanan serius atau berita keras.
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Istilah infotainment (informasi hiburan) dan infotainer (pewara informasi hiburan) pertama kali dipakai pada bulan September 1980 di konferensi gabungan yang dihadiri oleh organisasi ASLIB dan CILIP di Sheffield, Britania Raya.[6] Pada tahun 1983, istilah infotainment mulai dipakai oleh orang banyak,[1] dan gaya informasi hiburan perlahan-lahan menggantikan berita ringan dengan teori-teori komunikasi.[7]
Dulunya, istilah ini dipakai untuk meremehkan wartawan wanita yang mendapatkan pekerjaan berita ringan. Berita ringan sempat dikira hanya dikonsumsi oleh wanita,[8] tetapi pada akhirnya berkembang menjadi genre media berita tersendiri.[9]
Informasi hiburan sebagai berita
[sunting | sunting sumber]Informasi hiburan umumnya bisa dikenali dari sifatnya yang menghibur. Informasi hiburan mungkin juga memakai grafik mencolok, penyuntingan berpacu cepat (fast-paced), musik, sensasionalisme, dan terkadang satire untuk menarik perhatian pemirsa. Contoh acara informasi hiburan berbahasa Inggris yaitu Larry King Live,[10] Entertainment Tonight, The Daily Show, dan The Oprah Winfrey Show.[7]
Belum ada konsensus akademis yang tepat mengenai pengertian apa itu informasi hiburan/berita ringan serta perbandingannya dengan berita keras. Banyak penulis berpendapat bahwa "pengertiannya itu sering tidak jelas atau bahkan tidak ada."[11] Banyak penulis telah menerbitkan gagasan mereka yang berbeda-beda tentang perbedaan antara kedua media ini. Wilbur Schramm adalah salah satu penulis yang pertama kali menerangkan perbedaannya sehubungan dengan konsumsi oleh manusia. Dia menggolongkan berita menjadi jenis bergratifikasi tertunda (termasuk berita urusan masyarakat, urusan ekonomi, masalah sosial, ilmiah, pendidikan, dan kesehatan) yang menyerupai berita keras, dan jenis bergratifikasi segera (termasuk berita kejahatan/korupsi, kecelakaan dan bencana, olahraga, acara, dan minat manusia) yang menyerupai informasi hiburan/berita ringan.[12]
Beberapa penulis hanya memakai aspek kebertopikan dan ketepatan waktu dari isi berita untuk menentukan apakah jenisnya keras atau ringan; semakin mengikuti topik dan tepat waktu, lebih "keras" dan serius beritanya. Penulis lain punya pengertian yang lebih pelik, mengartikan berita keras sebagai "peristiwa penting yang melibatkan pemimpin teratas, persoalan besar, atau gangguan siginifikan dalam keseharian hidup," dan berita ringan sebagai "berita yang biasanya lebih berpusat pada kepribadian, kurang terikat waktu, lebih praktis, dan lebih berbasis insiden dibandingkan berita lainnya."[11]
Mungkin ada laporan serius yang tidak berpacu peristiwa (event-driven)—liputan tentang tren sosial, ekonomi, hukum, atau teknologi yang penting—laporan penyelidikan yang mengungkap korupsi, pencemaran, atau masalah akhlak yang sedang berlangsung—atau perbincangan tentang persoalan politik yang belum terselesaikan tanpa alasan khusus. Hari jadi, hari libur atau akhir tahun dapat membuat beberapa berita menjadi peka terhadap waktu, tetapi laporan sejenis ini memberikan lebih banyak peluang untuk renungan dan analisis dibanding dengan laporan berita biasa tentang suatu peristiwa tertentu.
Kecaman
[sunting | sunting sumber]Sebagian besar program jaringan televisi dan kabel siaran hanya berisi informasi umum tentang subjek yang mereka liputi dan mungkin dianggap tidak mempunyai nilai informatif yang berbobot.[13] Contoh, siaran informasi hiburan mungkin melebih-lebihkan tuduhan pidana yang diterima oleh orang lain, serta tanpa adanya bukti atau dukungan fakta yang memverifikasinya secara menyeluruh. Sebagian orang tidak menyenangi media informasi hiburan (apalagi dalam bentuk TV atau kabel), karena "ia tampak melesat dari satu peristiwa ke peristiwa lain, seringkali berfokus pada konten sepele yang didorong oleh pesohor."[14]
Siaran berita informatif "keras" saat ini terkadang dicampuradukkan dengan unsur fiksi, drama, dan informasi hiburan.[15] Sebagian berpendapat bahwa penimbul dari hal ini mungkin adalah diambilalihnya jaringan berita utama oleh konglomerat yang sebagian besar berbisnis di dunia hiburan (contoh, CBS News milik Viacom-Paramount, atau ABC News telah menjadi bagian dari perusahaan Disney sejak 1996).[16]
Di sosial media
[sunting | sunting sumber]Informasi hiburan kini mampu menjangkau khalayak yang lebih luas melalui berbagai aplikasi media sosial yang populer. Dalam kasus situs media sosial seperti Twitter dan Facebook, yang aslinya dibuat untuk menjalin hubungan sosial serta berbagi informasi pribadi kepada umum, kini telah menyediakan wadah baru untuk disebarkannya informasi hiburan. Sifat interaktif media sosial juga memungkinkan konsumen informasi hiburan untuk menjadi produsen, menghasilkan berita dan komentar mereka sendiri, yang sebagian sering digunakan oleh wartawan sebagai bahan cerita atau warta.[16]
Dampak
[sunting | sunting sumber]Siaran peristiwa penting atau menarik pada awalnya dimaksudkan untuk mengabarkan masyarakat tentang peristiwa setempat atau antarnegara demi keselamatan dan kesadaran mereka sendiri. Namun, penyiar berita setempat kini lebih sering meliput peristiwa setempat dengan cara yang memancing hiburan bagi pemirsa, dengan cuplikan yang menarik, visual yang dinamis, dan judul berita retoris yang memicu pendapat.[16]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 "the definition of infotainment". Dictionary.com (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Demers, David, "Dictionary of Mss Communication and Media Research: a guide for students, scholars and professionals," Marquette, 2005, hlm. 143 (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Parker, Evan A. (2016). "The Proliferation of Pseudoarcheology through "Reality" Television Programming". Lost City, Found Pyramid: Understanding Alternative Archaeologies and Pseudoarchaeology (dalam bahasa Inggris). University of Alabama Press. hlm. 149–166.
- ↑ Merriam- Webster, The Cambridge Online Dictionary
- ↑ Cambridge Online Dictionary
- ↑ Kwanya, Tom; Stilwell, Christine; Underwood, Peter G. (2015). Library 3.0 - Intelligent Libraries and Apomediation (dalam bahasa Inggris). Chandos Publishing. ISBN 978-1-84334-718-7. Diakses tanggal 15 Desember 2023.
- 1 2 "infotainment - television program" (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Barker-Benfield, G. J. (16 Oktober 1998). Portraits of American Women: From Settlement to the Present (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 534. ISBN 9780195120486 – via Internet Archive.
infotainment women journalists-Car. -cars.
- ↑ "How Barbara Walters Invented the Internet" (dalam bahasa Inggris). 16 Mei 2013.
- ↑ "Larry King, Breezy Interviewer of the Famous and Infamous, Dies at 87". The New York Times (dalam bahasa Inggris). 2021-01-23. Diakses tanggal 23 Januari 2021.
- 1 2 Reinemann, Carsten; Stanyer, James; Scherr, Sebastian; Legnante, Guido (1 Februari 2012). "Hard and soft news: A review of concepts, operationalizations and key findings". Journalism (dalam bahasa Inggris). 13 (2): 221–239. doi:10.1177/1464884911427803. ISSN 1464-8849. S2CID 5731016.
{{cite journal}}: - ↑ Schramm, Wilbur (1949-09-01). "The Nature of News". Journalism Quarterly (dalam bahasa Inggris). 26 (3): 259–269. doi:10.1177/107769904902600301. ISSN 0022-5533. S2CID 157511120.
{{cite journal}}: - ↑ Lehman-Wilzig, Sam N.; Seletzky, Michal (1 Februari 2010). "Hard news, soft news, 'general' news: The necessity and utility of an intermediate classification". Journalism (dalam bahasa Inggris). 11 (1): 37–56. doi:10.1177/1464884909350642. ISSN 1464-8849. S2CID 145451919.
- ↑ Campbell, R., Martin, R. C, and Fabos, B. G. Media & culture: An introduction to mass communication (dalam bahasa Inggris). Bedford/St.Martin's, 2012
- ↑ Graber, Doris A. (1 Oktober 1994). "The Infotainment Quotient in Routine Television News: A Director's Perspective". Discourse & Society (dalam bahasa Inggris). 5 (4): 483–508. doi:10.1177/0957926594005004004. ISSN 0957-9265. S2CID 145289321.
{{cite journal}}: - 1 2 3 Thussu, Daya Kishan (2015), "Infotainment", The International Encyclopedia of Political Communication (dalam bahasa Inggris), American Cancer Society, hlm. 1–9, doi:10.1002/9781118541555.wbiepc152, ISBN 978-1-118-54155-5
{{citation}}:
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- "Soft news and critical journalism eroding audiences" (dalam bahasa Inggris)
- "Tough times for hard news, but good journalism goes on" (dalam bahasa Inggris)